Jakarta, Petrominer – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang unik. Dalam setiap kunjungannya ke daerah, Beliau selalu membagikan-bagikan hadiah kepada pelajar yang bisa menjawab pertanyaannya. Atau bahkan, mengabulkan satu dua permintaan yang disampaikan secara spontan.
Namun kali ini tidak tanggung-tanggung. Jokowi mengabulkan permintaan dua murid sekolah dasar (SD) dari Dusun Panassang, Desa Tallubamba, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Permintaan itu disampaikan kepada Presiden oleh Ajeng Sri Kartini dan Windi Sri Wiguna, siswi SDN164 Panassang, lewat sebuah video yang diunggah ke YouTube pada 1 Mei 2017 lalu, bertepatan dengan momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Melalui video tersebut, mereka menyampaikan harapan agar listrik segera masuk ke kampungnya, sehingga mereka tidak kesusahan saat belajar di malam hari. Selama ini, mereka belajar dengan memakai penerangan dari lampu minyak yang cahayanya terbatas dan bahan bakarnya mahal.
Presiden pun tergugah. Apalagi Pemerintah punya program listrik desa yang sedang digarap oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN (Persero).
Kebetulan, PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat (Sulselrabar) tengah menggenjot program listrik desa tersebut. Kali ini Dusun Panassang dan Kalidong, Desa Tallubamba Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, menjadi salah satu tempat target program listrik desa.
Proyek listrik desa di kedua dusun tersebut mulai dibangun bulan Agustus 2017 lalu dan ditargetkan selesai akhir tahun 2017. Saat ini, proses pembangunan sudah mencapai 40 persen.
Untuk melistriki kedua dusun tersebut, PLN membangun jaringan tegangan menengah 20 kilo Volt (kV) sepanjang 5.1 kilo meter sirkuit (kms) dan jaringan tegangan rendah sepanjang 2.5 kms. Total daya yang dialirkan adalah sebesar 150 kVA untuk melistriki sekitar 80 – 100 kepala keluarga (KK) di kedua dusun tersebut. Total anggaran jasa dan material untuk kedua dusun di Desa Tallubamba itu mencapai Rp 1.906.059.000.

Program ini pun mendapat antusias dari masyarakat setempat. Mereka pun rela bahu-membahu dengan para pegawai PLN untuk membangun jaringan listrik ke dusun mereka.
Begitu pula dengan Windi Sri Wiguna. Saat ditemui, gadis cilik ini menunjukan rona bahagia karena sebentar lagi dusunnya akan teraliri listrik. Selama ini, Windi mengaku menggunakan Pallang (penerangan yang menggunakan minyak) untuk belajar di malam hari.
“Terima kasih PLN atas usahanya, sebentar lagi akan mewujudkan impian kami untuk tidak lagi menggunakan Pallang dalam belajar tapi menggunakan lampu,” ucap Windi.
Butuh 22-24 Orang
Manajer PLN Area Pinrang, Ambo Tuwo, memaparkan program listrik desa ini akan diselesaikan secepat mungkin mengingat tiang-tiang listrik sudah tersedia di banyak titik.
“Saya sangat terkejut dengan antusiasme warga yang turut membantu PLN dalam memanggul tiang. Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat,” ungkap Ambo Tuwo saat memantau proses pengerjaan lisdes di Dusun Panassang.
Dia menjelaskan, lokasi pengerjaan di Dusun Panassang terbilang cukup sulit. Kondisi jalan, dengan sudut kemiringan 60 derajat dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan, tidak menyurutkan semangat pegawai PLN yang bergotong royong dengan masyarakat sekitar melakukan pekerjaan pemancangan tiang. Padahal, satu tiang pancang beratnya sekitar 378 kilogram. Masing-masing tiang itu diangkut menggunakan gerobak yang dimodifikasi sedemikian rupa melewati hutan, bukit, dan jembatan setapak.

“Bersama dengan warga, pegawai PLN menggotong tiang tersebut hingga ke lokasi pemancangan. Padahal, untuk satu tiang dibutuhkan 22-24 orang,” ujar Ambo Tuwo.
PLN Wilayah Sulselrabar memang terus berkomitmen untuk melistriki seluruh desa di Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat. Pembangunan listrik desa merupakan salah satu upaya PLN Wilayah Sulselrabar untuk mencapai target Rasio Elektrifikasi 100 persen tahun 2018.








Tinggalkan Balasan