Genangan tumpahan minyak meluas hingga ke pemukiman nelayan.

Jakarta, Petrominer – Anggota Komisi VII DPR RI, Rofi Munawar, meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bertindak cepat dalam menangani tumpahan minyak mentah sejumlah tempat. Dia juga mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencermati secara serius dampak lingkungan yang mungkin terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Rofi menyoroti kejadian tumpahan minyak di sekitar Teluk Balikpapan yang terjadi pekan lalu. Kasus serupa pun terulang di tempat lain. Hari Minggu (8/4), ditemukan tumpahan minyak mentah sepanjang 10 meter di sekitar pulau Pari, Kepulauan Seribu. Ternyata itu bukan yang pertama, karena pada bulan Nopember 2017 dan Pebruari 2018 lalu pernah terjadi peristiwa serupa di pulau yang sama.

“Kita melihat penanganan tumpahan minyak dilakukan dengan manual dan cenderung lambat,” ujar Rofi dalam keterangan pers yang diterima Petrominer, Selasa (10/4).

Menurutnya, dalam menangani tumpahan minyak di lepas pantai sudah sepantasnya ada Standard Operational Procedure (SOP) yang harus ditempuh. Dari mulai penanganan tumpahan hingga rehabilitasi kawasan tercemar. Seluruh proses tersebut akan sangat bergantung terhadap kemampuan dan kedispilinan dalam menjalankan seluruh mekanisme tersebut.

Namun Rofi melihat proses penanganan tumpahan minyak di Balikpapan dilakukan dengan manual dan melibatkan masyarakat awam. Padahal sangat mungkin jika tidak hati-hati, bisa berdampak buruk. Dia pun meminta Kementerian LHK untuk memberika sanksi tegas kepada para pelaku yang telah terbukti melakukan pencemaran sesuai dengan UU no 32 tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

Terlebih tumpahan minyak termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). UU tersebut dalam beleid pasal 88 menyatakan setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan

“Kita khawatir jika tanpa penanganan yang komprehensif dan tuntas, dampaknya pada laut bisa sampai berbulan-bulan dan sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem yang ada,” tegas Rofi.

Lebih lanjut, dia meminta Kementerian ESDM segera melakukan inventarisir dan memetakan dengan jelas potensi kejadian yang sama terulang kembali. Selain itu, perlu usaha yang lebih serius dalam melakukan peningkatan sistem deteksi dini (early warning system) yang real time dan akurat.

“Deteksi dan mitigasi dini terhadap tumpahan minyak sudah harus diketahui dalam tempo 1×24 jam,” ujar Rofi.

Menurut JATAM, tumpahan minyak mentah di Teluk Balikpapan bisa menyebabkan punahnya biota laut yang hidup di perairan seperti ikan, Pesut, serta terumbu karang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here