Jakarta, Petrominer – PLN menyatakan telah mengembangkan 32 kawasan konservasi flora dan fauna yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini merupakan komitmen PLN untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan pilar lingkungan dengan nilai sekitar Rp 5,2 miliar.
Menurut Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi, pengembangan kawasan konservasi flora dan fauna ini direalisasikan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
“Sejalan dengan program transformasi PLN Pilar Green, konservasi alam adalah upaya pengelolaan biosfer dengan tujuan menjaga kelangsungan hidup flora dan fauna beserta beragam genetiknya demi memelihara ekosistem,” jelas Agung, Minggu (15/8).
Kegiatan tersebut meliputi konservasi terumbu karang, penanaman mangrove, konservasi satwa endemik seperti Tarsius, Penyu, Burung endemik asli Papua dan berbagai satwa langka lainnya.
Sebagai contoh, program konservasi alam dilaksanakan di Pantai Sebalang, Lampung. Program yang dilaksanakan oleh PLN Unit Induk Pembangkit Sumatera Bagian Selatan ini merupakan upaya rehabilitasi terumbu karang kawasan pantai sekitar PLTU Sebalang.
“Program konservasi ini dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menggunakan inovasi Teknologi Kelistrikan dalam Transplantasi Terumbu Karang yang dinamakan system biorock. Sistem ini memanfaatkan listrik arus lemah sehingga mampu mempercepat pertumbuhan karang hingga hampir dua kali lipat daripada kondisi normal,” jelas Agung.
Program ini diyakini telah meningkatkan tutupan terumbu karang di lokasi Sebalang. Dari sebelumnya hanya 11,65 persen tahun 2016 saat sebelum pelaksanaan program, menjadi 61 persen tutupan karang hidup di lokasi tersebut hingga tahun 2021.
“Kegiatan konservasi ini juga telah meningkatkan jumlah ikan di laut yang berdampak pada jumlah kenaikan ekonomi bagi nelayan. Tak hanya itu, adanya terumbu karang bisa mempercantik pemandangan di dasar laut yang juga menjadi objek wisata baru,” paparnya.
Sutedjo, nelayan Sebalang mengatakan bahwa tangkapan ikan semakin meningkat sejak program konservasi ini dilaksanakan.
“Sebelum diadakan program konservasi sekali melaut hanya mendapatkan Rp 100 Ribu hingga Rp 200 Ribu. Setelah program konservasi penghasilan melaut meningkat menjadi Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu,” ungkapnya.
Di sisi PLN, dengan bersihnya air laut akibat konservasi terumbu karang, maka pembangkit akan meningkat kinerjanya. Hal itu disebabkan semakin berkurangnya potensi gangguan pembangkit akibat sampah yang masuk di water intake PLTU.










Tinggalkan Balasan