Medco Power melakukan pengeboran sumur (spud in) eksplorasi IJN 6-1 di proyek pengembangan PLTP Blawan Ijen, Jawa Timur.

Jakarta, Petrominer – Belakangan ini, sejumlah perusahaan di sektor energi telah menyatakan komitmennya dalam penurunan emisi karbon. Ini sejalan dengan kesepakatan yang dicapai dalam the 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) yang baru saja digelar di Glasgow, Skotlandia, untuk mencapai net zero emissions selambat-lambatnya tahun 2050.

Namun di sisi lain, mereka pun berpacu untuk meningkatkan produksinya. Begitu pula dengan perusahaan-perusahaan energi di Indonesia, salah satunya PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi). Dalam merealisasikannya, kedua hal ini diharapkan bisa berjalan beriringan dan bahkan saling mendukung.

Chief Administrative Officer MedcoEnergi, Amri Siahaan, menyampaikan bahwa MedcoEnergi berkomitmen untuk mencapai emisi Net Zero untuk Scope 1 dan Scope 2 pada tahun 2050 serta Net Zero untuk Scope 3 di tahun 2060. Sebagai langkah responsif terhadap perubahan iklim, MedcoEnergi juga berkomitmen untuk menghasilkan energi yang ramah lingkungan.

Scope 1 adalah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang langsung. Scope 2 merupakan emisi GRK dari konsumsi energi tidak langsung. Sementara Scope 3 adalah emisi GRK tidak langsung lainnya dari value chain dalam proses produksi yang dilakukan.

“Publikasi MedcoEnergi terhadap Strategi Perubahan Iklim menunjukkan komitmen Perseroan terhadap tujuan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Amri dalam Paparan Publik atas hasil kinerja semester pertama serta perkembangan terkini MedcoEnergi yang diselenggarakan secara daring, Kamis (18/11).

Menurutnya, hidrokarbon akan menjadi bagian besar dari bauran energi dunia untuk jangka menengah, terutama di Asia. Penyeimbangan portofolio perusahaan minyak dan gas (migas) dunia akan terus menciptakan peluang bagi pemain regional. Perusahaan yang memegang aset hidrokarbon di masa depan akan menjadi perusahaan dengan transparansi, tata kelola dan praktik yang konsisten dengan nilai investor yang tinggi.

“Karena itulah, dalam menangani perubahan iklim, MedcoEnergi fokus pada tiga strategi. Pertama, pengurangan intensitas emisi. Kedua, transisi ke energi rendah karbon. Dan terakhir, pengelolaan risiko fisik iklim yang muncul,” jelas Amri.

Dia menjabarkan, pengurangan intensitas emisi dilakukan dengan menerapkan teknologi dan praktik terbaik untuk mengurangi emisi flaring, venting dan fugitive, serta mengurangi penggunaan dan intensitas energi dengan mengadopsi sumber energi terbarukan. Tidak hanya itu, MedcoEnergi juga akan berkolaborasi pada rantai pasokan dan nilai untuk meningkatkan efisiensi dan pengungkapan emisi.

“Semua ini targetnya adalah mengendalikan pembakaran gas alam, yang dapat melepaskan gas rumah kaca. Apalagi sejak tahun 2017 lalu, Pemerintah Indonesia berkomitmen pada inisiatif zero ruoutine flaring dari Bank Dunia pada tahun 2030,” ujar Amri.

Sementara upaya transisi ke energi rendah karbon dilakukan dengan meningkatkan produksi gas sebagai sumber energi transisi. Salah satunya dengan mengevaluasi peluang untuk berinvestasi dalam LNG-to-Power.

“Aliansi strategis dengan Kansai sedang dalam tahap tender proyek LNG-to-Power sebagai dukungan untuk smelter Amman Mineral Nusa Tenggara,” ungkapnya.

Selain itu, MedcoEnergi akan terus mengembangkan portofolio energi terbarukan, sambil menilai kelayakan untuk mengadopsi munculnya teknologi terbarukan. Selain panasbumi dan air, MedcoEnergi juga mulai melirik sumber energi terbarukan lainnya untuk pembangkit listrik, yakni tenaga surya (matahari).

Buktinya, ujar Amri, realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) sektor ketenagalistrikan selama enam bulan pertama tahun 2021 digunakan untuk tahap penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Combined Cycle 275 MW Riau, pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya 26 MWp di Sumbawa dan tahap-1 pengembangan Pembangkit Litrik Tenaga Panasbumi (PLTP) 30 MW di Ijen, Jawa Timur.

“Progres pembangunan PLTS Sumbaya sudah lebih dari 40 persen. Sesuai jadwal, PLTS ini akan mulai beroperasi pada Kuartal I-2022. Kami ikut tender PLTS di Bali dengan kapasitas 2×25 MW. Saat ini, negoisasi PPA sedang berlangsung,” jelasnya.

Selain itu, MedcoEnergi melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia bersama konsorsium akan mengembangkan Proyek Percontohan Impor Tenaga Surya 100 MW dengan kapasitas 670 MWp dari Indonesia ke Singapura. PLTS tersebut akan dibangun di Pulau Bulan, Provinsi Riau, setelah didapatkannya izin prinsip impor dari Energy Market Authority Singapura.

Untuk memajukan strategi penangan perubahan iklim ini, Amri menegaskan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi akuisisi peningkatan kredit dan manajemen portofolio. MedcoEnergi juga terus memperbarui target Environmental, Social and Governance (ESG), dan Transisi Energi 2022-2027.

Keberhasilan dari strategi tersebut harus didukung oleh empat faktor penentu, yakni governance, manajemen data, transparansi dan kepatuhan, serta kolaborasi dan keterlibatan. Faktor governance berupa komitmen dan pengawasan direksi, serta integrasi ke dalam rencana bisnis dan kinerja manajemen. Keterlibatan staf dan pengembanan kapasitas juga diperlukan.

Dalam hal manajemen data, MedcoEnergi terus meningkatkan sistem manajemen data emisi, serta meningkatkan pengumpulan dan penghitungan Scope 3 sesuai protokol dan standar. Sementara untuk transparansi dan kepatuhan, dilakukan verifikasi pengungkapan emisi dari pihak ketiga. Perusahaan juga memperkuat transparansi sejalan dengan Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) dan meningkatkan penilaian untuk Carbon Disclosure Project (CDP) dan ESG.

“Terakhir, kami telah melibatkan regulator dan investor dalam memonitor munculnya peraturan dan tren. Tentunya juga berkolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk mendorong ekonomi rendah karbon,” ujar Amri.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Utama MedcoEnergi, Hilmi Panigoro, menyampaikan bahwa MedcoEnergi selalu memerhatikan aspek keberlanjutan usaha yang selaras dengan kelestarian lingkungan dalam segenap kegiatan operasionalnya. Termasuk dengan melakukan berbagai upaya dalam proses transisi menuju energi bersih yang sejalan dengan antisipasi perubahan iklim.

Hilmi menjelaskan bahwa pada tahun 2020, MedcoEnergi telah memutakhirkan metodologi perhitungan dan pengumpulan data emisi dengan menggunakan Perangkat Perhitungan Emisi Udara & GRK. Sementara di tahun 2021, perusahaan melaporkan data 2018-2020 dalam pengungkapan pertama melalui platform CDP yang sesuai dengan rekomendasi TCFD.

“Selain melaporkan emisi Scope 1, kami mulai melaporkan emisi Scope 2 untuk migas dan ketenagalistrikan sejumlah 11.329 ton CO2e. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan, kami juga telah memasukkan data sumber emisi bergerak di dalam laporan emisi GRK Scope 1 periode 2018–2020 dan data-data emisi Scope 1 dan 2 telah dijamin oleh pihak ketiga,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here