Chief Administrative Officer MedcoEnergi, Amri Siahaan.

Jakarta, Petrominer – PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) mencatat produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 94 ribu Barrel Oil Equivalent per Day (BOEPD) dan penjualan listrik sebear 1.355 Giga Watt hour (GWh) selama semester pertama tahun 2021. Kinerja ini sesuai dengan target dan perkiraan yang dicanangkan untuk tahun ini.

“Saya senang melaporkan peningkatan pada hasil kinerja paruh pertama serta dukungan kuat dari investor dan pemangku kepentingan Perseroan,” ujar Chief Administrative Officer MedcoEnergi, Amri Siahaan, dalam Paparan Publik atas hasil kinerja semester pertama serta perkembangan terkini MedcoEnergi yang diselenggarakan secara daring, Kamis (18/11).

Menurut Amri, produksi migas sebesar 94 ribu BOEPD sudah sesuai (on-track) dengan panduan tahun 2021 yang sebesar 95 ribu BOEPD. Kapasitas produksi sekitar 110 ribu BOEPD. Capaian ini seiring dengan berangsur pulihnya permintaan gas domestik setelah lockdown ekonomi di Indonesia.

“Permintaan gas di pasar utama Indonesia berangsur pulih. Kami berharap permintaan gas akan terus membaik pada tahun 2022,” tegasnya.

Meski aktivitas meningkat, namun belanja modal (capital expenditure/capex) sektor migas masih di bawah alokasi tahun ini sebesar US$ 150 juta. Realisasi belanja modal migas selama enam bulan pertama 2021 mencapai US$ 14 juta.

“Belanja modal migas sebagian besar digunakan untuk proyek pengembangan di PSC South Natuna Sea Blok B. Pengembangan ini akan berlanjut pada tahun 2022 dengan rencana gas pertama dari lapangan Hiu pada Kuartal II-2022, gas pertama dari proyek Belida Extension pada Kuartal IV-2022 dan minyak pertama dari lapangan Forel serta gas dari lapangan Bronang pada Kuartal IV-2023,” jelas Amri.

Sedangkan biaya produksi migas, paparnya, tercatat sebesar US$ 9,6 per Barrel Oil Equivalent (BOE). Ini sedikit lebih tinggi karena adanya biaya perbaikan atas penghentian fasilitas yang tidak direncanakan (unplanned shutdown). Meski begitu, masih di bawah perkiraan tahun 2021 yang dipatok sebesar US$ 10 per BOE

Lebih lanjut, Amri menjelaskan bahwa penjualan listrik yang sebesar 1.355 GWh, sekitar 33 persen berasal dari sumber energi terbarukan. Ini merupakan salah satu realisasi dari komitmen MedcoEnergi untuk mulai melakukan transisi ke energi yang lebih bersih.

Buktinya, realisasi belanja modal ketenagalistrikan digunakan untuk tahap penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Combined Cycle 275 MW Riau, pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya 26 MWp di Sumbawa dan tahap-1 pengembangan PLTP 30 MW di Ijen, Jawa Timur.

“Medco Power bersama konsorsium akan mengembangkan Proyek Percontohan Impor Tenaga Surya 100 MW dengan kapasitas 670 MWp dari Indonesia ke Singapura, di Pulau Bulan, Provinsi Riau, setelah didapatkannya izin prinsip impor dari Energy Market Authority Singapura,” ungkap Amri.

Selain itu, MedcoEnergi juga telah mempublikasikan Strategi Perubahan Iklim dalam mencapai emisi Net Zero untuk Scope 1 dan Scope 2 pada tahun 2050, dan Scope 3 pada tahun 2060.

Scope 1 adalah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang langsung. Scope 2 merupakan emisi GRK dari konsumsi energi tidak langsung. Sementara Scope 3 adalah emisi GRK tidak langsung lainnya dari value chain dalam proses produksi yang dilakukan.

“Publikasi MedcoEnergi terhadap Strategi Perubahan Iklim menunjukkan komitmen Perseroan terhadap tujuan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Amri.

Portofolio aset MedcoEnergi tahun 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here