
Jakarta, Petrominer – KADIN telah ditunjuk sebagai mitra pemikiran (thought partner) Pemerintah Indonesia dalam negosiasi COP26 mendatang. Ini merupakan peluang untuk memperlihatkan keterlibatan aktif swasta Indonesia mencapai komitmen perubahan iklim.
“KADIN siap membantu Pemerintah Indonesia memenuhi komitmen perubahan iklim negara kita. Dalam hal ini, KADIN mengajak seluruh komponen pihak swasta, baik itu perusahaan besar maupun UMKM untuk berkolaborasi dalam membangun Agenda Net Zero untuk membantu pemerintah dalam mencapai Net Zero Indonesia di 2060,” tegas Ketua Umum KADIN Indonesia, M. Arsjad Rasjid, Minggu (31/10).
Menurut Arjad, KADIN akan membantu menunjukkan komitmen Indonesia terhadap salah satu agenda utama COP26 tentang membangun kolaborasi antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat guna percepat tindakan mitigasi perubahan iklim. KADIN pun menampilkan sejumlah inisiatif keberlanjutan yang dilakukan oleh sektor swasta.
Pertama, mekanisme carbon market. Adopsi carbon market sebagai instrumen utama untuk mengurangi emisi CO2 semakin meluas. Sebelum COP26, KADIN telah menyelenggarakan forum webinar CXO yang membahas topik ini dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong pemahaman tentang jenis-jenis dan tren carbon market.
KADIN berencana meluncurkan Pasar Karbon Domestik Sukarela (Voluntary Domestic Carbon Market) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada COP26, yang bergantung pada peraturan carbon market dan carbon tax yang relevan sebagaimana diuraikan dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang Nilai Ekonomi Karbon dan memfasilitasi pembentukan carbon market di Indonesia.
Kedua, pengurangan deforestasi. KADIN secara aktif mendukung pengelolaan hutan lestari yang menjamin kelestarian fungsi produksi, fungsi ekologi dan fungsi sosial hutan. KADIN mendukung penerapan sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) yang secara nyata dapat mencegah deforestasi serta mendorong reforestasi dalam proses bisnis masing-masing untuk mengurangi emisi CO2.
Ketiga, transisi menuju energi baru terbarukan. Selain menyelenggarakan CXO webinar, KADIN telah berkoordinasi erat dengan sejumlah pengembang, kontraktor, dan industri rantai nilai energi baru terbarukan untuk bekerja sama dengan PT PLN (Persero) dalam meningkatkan pengadaan dan pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). KADIN juga mendorong sektor swasta untuk menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap komersial dan industri sebagai bagian dari agenda transisi energi yang lebih luas di Indonesia.
Keempat, pengelolaan sampah, dengan fokus utama pada sampah plastik. Di Indonesia, 30-40 persen sampah dibuang ke sungai, dibakar, atau dikelola sendiri oleh masyarakat sehingga menghasilkan gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar. Menindaklanjuti fokus jangka pendek KADIN tentang pengelolaan sampah plastik, anggota KADIN telah membuat komitmen dan meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengurangi plastik sesuai dengan target Indonesia untuk mengurangi sampah plastik laut 70 persen pada tahun 2025.
Ada pengurus inti KADIN yang merupakan produsen barang konsumsi rumah tangga telah secara aktif terlibat dalam Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia (National Plastic Action Partnership/NPAP) sebagai pemimpin dalam mendorong langkah-langkah nyata di seluruh rantai nilai.
Kelima, impact investment untuk perusahaan dengan iklim positif. Konsep green financing semakin populer secara global dan telah terbukti mengurangi emisi CO2 dengan mendorong investasi untuk proyek-proyek berkelanjutan. Anggota pengurus inti KADIN, melalui APEC Business Advisory Council (ABAC) Indonesia, membentuk Indonesia Impact Fund pada tahun 2019. Dana tersebut, menargetkan terkumpulnya US$10 juta tahun 2021, memprioritaskan investasi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) di berbagai bidang.
“KADIN yakin, kolaborasi antara sektor publik dan swasta serta pihak internasional perlu lebih didorong dan diperkuat pasca COP26. Salah satu area kolaborasi potensial adalah pembentukan satuan tugas publik-swasta untuk penyusunan roadmap carbon market Indonesia dan Kadin Net Zero Hub, yang menjadi pusat sumber daya bagi perusahaan swasta berbagi wawasan, pengetahuan, alat serta sumber daya lainnya dalam membangun Net Zero Journey,” ujar Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Shinta W. Kamdani.
Menurut Shinta, KADIN akan berfokus pada tujuh tema prioritas dalam mempercepat dekarbonisasi. Ada kolaborasi dalam penyusunan regulasi dan implementasi carbon pricing; pembangunan ekonomi berbasis hutan; peningkatan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi; percepatan adopsi mobilitas listrik; pengembangan program-program sirkularitas end-to-end di sektor-sektor utama; inovasi dan perluasan praktik pertanian berkelanjutan; dan penggunaan pembiayaan berkelanjutan untuk mempercepat transisi.

























