Jakarta, Petrominer – Hampir seluruh produsen di industri perhiasan sudah menerapkan teknologi dalam proses produksinya selama tiga tahun terakhir ini. Sebagian dari mereka juga sudah menggunakan aplikasi e-smart IKM dalam pemasaran produknya, serta aktif berpromosi secara online (daring) maupun offline.

Hal tersebut dikemukakan Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih, saat menjadi pembicara pada seminar and Crafts Forum bertema “Indonesia Jewelry From Time To Time” di ajang Inacraft 2019, Rabu (24/4).

“Dengan mengadopsi atau menerapkan teknologi seperti CNC (Computerized Numerical Control), moulding, investment casting, dan laser cutting untuk finishing, ada sejumlah manfaat yang dirasakan IKM. Antara lain penggunaan bahan baku seperti emas, menjadi hanya sepertiga dibandingkan kebutuhan sebelum menggunakan peralatan tersebut,” ujar Gati.

Jika sebelumnya dibutuhkan 15 gram emas sebagai bahan baku, dengan CAD (Computer Aided Design) – manufacturing; CNC dan laser cutting, hanya membutuhkan 5 gram emas. Selain itu, waktu bekerja yang diperlukan juga menjadi lebih efisien, sehingga dapat memproduksi perhiasan secara massal dengan hasil produksi yang lebih memenuhi standard.

Sejalan dengan hal tersebut, Kemenperin sedang dalam proses pembentukan material centre bagi IKM. Saat ini, Kemenperin masih dalam tahapan pengumpulan data, dan juga mendesain supaya divisi pengumpulan bahan baku ini dapat berjalan secara efektif.

Khusus di bidang perhiasan emas, Kemenperin juga tengah menggagas pembentukan Rancangan Standard Nasional Indonesia (RSNI). Dengan begitu, produk ini nantinya diharapkan dapat masuk ke negara ekspor dengan berstandar internasional.

Menurut Gati, industri perhiasan berperan penting menggerakkan perekonomian nasional, menyerap tenaga kerja, serta berfungsi sebagai penyumbang devisa negara, dan termasuk dalam industri kreatif.

“Itu sebabnya dengan melihat peran pentingnya itu, maka pemerintah mendorong industri perhiasan termasuk dalam salah satu industri yang diharapkan, segera mengaplikasikan industri 4.0,” tegasnya.

Industri perhiasan merupakan salah satu sektor andalan dalam berkontribusi terhadap perekonomian nasional melalui capaian nilai ekspornya. Hal ini lantaran produk perhiasan dalam negeri mampu berdaya saing global dan memiliki nilai tambah tinggi.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor produk perhiasan Indonesia mencapai US$ 2,05 miliar sepanjang tahun 2018. Negara tujuan utama ekspornya, antara lain Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendominasi hingga 93,02 persen dari total ekspor produk perhiasan nasional.

Bahan baku industri perhiasan seperti berbagai batu mulia tersebar di sejumlah daerah mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kepulauan Maluku, sampai ke Kalimantan.

Gati menyebutkan, saat ini Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai eksportir perhiasan dengan pangsa pasarnya lebih dari 4 persen di kancah global. “Hal ini menjadi peluang bagi industri perhiasan kita untuk terus memperbesar produktivitas dan memperluas pasarnya sejalan dengan perekonomian yang stabil dan perbaikan iklim usaha yang kondusif di tanah air.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here