
Jakarta, Petrominer – Industri kertas, percetakan, dan kemasan menghadapi tuntutan baru seiring meningkatnya kebutuhan produk ramah lingkungan. Peralihan dari kemasan berbasis plastik menuju bahan kertas, penggunaan tinta nabati, hingga efisiensi energi menjadi bagian dari transformasi industri untuk menjawab perubahan pasar sekaligus menekan dampak lingkungan.
Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Citra Rapati, mengatakan prospek industri kertas dan percetakan masih menjanjikan, terutama pada segmen kemasan, periklanan, dan penerbitan. Namun, industri perlu beradaptasi dengan tren green packaging yang semakin mendapat perhatian pasar.
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah mengurangi penggunaan kemasan plastik untuk produk makanan dan minuman, antara lain dengan beralih ke kemasan berbasis kertas atau mengganti pelapis plastik berbahan fosil dengan bioplastik. Meski demikian, penerapan alternatif tersebut membutuhkan waktu dan proses penyesuaian.
Dorongan serupa datang dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, mengajak pelaku industri percetakan dan kemasan mempercepat penerapan praktik produksi berkelanjutan melalui penggunaan bahan daur ulang, tinta berbasis nabati, serta efisiensi energi.
“Pasar mengharapkan produk berkelanjutan dan ramah lingkungan. Karena itu, pelaku industri percetakan dan kemasan perlu meningkatkan inovasi untuk menghasilkan produk yang menggunakan bahan ramah lingkungan,” kata Cecep di sela pembukaan ALLPrint Indonesia 2026, Rabu (7/10).
Menurutnya, perkembangan industri percetakan kini tidak lagi sebatas memindahkan tinta ke atas kertas. Digital printing, pencetakan tiga dimensi (3D printing), kemasan pintar (smart packaging), dan teknologi cetak ramah lingkungan membuka peluang baru bagi industri kreatif, mulai dari desain komunikasi visual, periklanan, penerbitan, hingga kuliner dan fesyen.
Pasar Masih Menjanjikan
Di tengah persaingan dengan media digital, industri percetakan dan kertas masih memiliki ruang pertumbuhan. Kebutuhan label produk untuk perdagangan elektronik (e-commerce), merchandise, layanan cetak sesuai permintaan (print on demand), serta materi promosi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sejumlah penopang permintaan.
Kemenperin mencatat industri kertas pada tahun 2025 berkontribusi 3,573% terhadap produk domestik bruto (PDB) nonmigas. Nilai ekspor pulp mencapai US$3,6 miliar, sedangkan produk kertas sekitar US$4,5 miliar.
Industri ini juga menyerap sekitar 280.000 tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung, dengan lebih dari 100 perusahaan berskala besar.
Prospek tersebut ditopang meningkatnya kebutuhan kemasan, khususnya untuk sektor makanan, minuman, dan e-commerce. Peluang lainnya datang dari upaya mengganti plastik dengan material alternatif yang lebih ramah lingkungan, diversifikasi bahan baku, serta pengembangan teknologi produksi.
Sementara itu, data Kementerian Ekonomi Kreatif yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat subsektor penerbitan menyumbang nilai ekonomi sebesar US$6,63 juta hingga semester I tahun 2026. Angka ini menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkan melalui penguatan karya, konten kreatif, dan produk penerbitan untuk menjangkau pasar lebih luas.
Di tengah perubahan pola konsumsi informasi ke media digital, industri cetak dituntut memperkuat nilai tambah produk. Kemasan, label, dan materi promosi tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemasaran dan identitas merek.

Peluang UMKM
Transformasi teknologi percetakan turut membuka kesempatan bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas kemasan dan daya saing produk. Teknologi digital memungkinkan produksi yang lebih fleksibel, termasuk untuk pesanan dalam jumlah terbatas, sehingga pelaku usaha kecil memiliki lebih banyak pilihan dalam mengembangkan identitas produknya.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan ALLPrint Indonesia 2026 menjadi salah satu sarana bagi pelaku industri untuk mengenal teknologi terbaru, bertukar pengetahuan, memperluas jejaring, dan membuka peluang bisnis.
Pameran yang berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 itu digelar bersama sejumlah pameran pendukung, yakni Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.
ALLPrint Indonesia 2026 menghadirkan 400 peserta, termasuk 20 UMKM, dari lebih dari 10 negara, antara lain Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan. Mereka menampilkan berbagai teknologi, mulai dari mesin percetakan modern dan peralatan presisi hingga bahan baku serta solusi digital terintegrasi.
Kehadiran peserta lintas negara juga memperlihatkan daya tarik pasar Indonesia bagi industri percetakan dan teknologi grafika. Namun, bagi pelaku usaha dalam negeri, peluang tersebut perlu diikuti peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan kemampuan memenuhi tuntutan pasar.
Digitalisasi, personalisasi produk, efisiensi, serta fleksibilitas produksi kini menjadi faktor penting dalam persaingan industri. Bersamaan dengan itu, tuntutan terhadap proses produksi dan bahan yang lebih ramah lingkungan semakin relevan.
Bagi industri kertas, percetakan, dan kemasan, tantangannya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan inovasi tersebut menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Kemampuan menjawab dua tuntutan itu akan menentukan daya saing industri di tengah perubahan pasar.








Tinggalkan Balasan