Indonesia Power telah melakukan ujicoba co-firing dengan pelet biomass pertama di Indonesia. Sejak uji coba co-firing pertamanya di PLTU Jeranjang pada Desember 2019 lalu, kini Indonesia Power melakukan co-firing di PLTU Banten 3 Lontar.

Jakarta, Petrominer – Merdeka !!! Merdeka dari sampah. Tema ini diangkat oleh PT Indonesia Power ketika meluncurkan program Waste to Energi (sampah menjadi energi) dengan melakukan co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar di Tangerang, Banten.

Program ini menjadi jawaban atas permasalahan sampah yang hampir dihadapi di seluruh daerah di Indonesia dan juga kondisi ketersediaan batubara yang kian menipis di alam. Melalui co-firing, anak usaha PT PLN (Persero) ini berupaya mereduksi pemakaian batubara sambil mencari energi alternatif untuk bahan bakar pembangkit listrik.

“Solusi energi ke depan adalah waste to energy. Kami berterima kasih kepada para penggagas terdahulu yang telah gigih memperjuangakan sebelumnya. Ini adalah people power of energy karena yang terlibat di dalam ini itu sangat banyak. Saya yakin target Penerintah di tahun 2025 dapat tercapai,” ujar Direktur Utama Indonesia Power, M. Ahsin Sidqi, dalam acara peluncuran Program Co-firing di PLTU Banten 3 Lontar, Senin (17/8).

Acara ini juga dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Ketenagalistrikan, Sripeni Inten Cahyani, Direktur Mega Project PLN, M Ikhsan Asaad, Komisaris Utama Comesttoarra Supriyadi Legino dan beberapa stakeholder terkait. Mereka tersambung secara virtual melalui aplikasi zoom.

Ahsin menjelaskan, sebagai perusahaan pembangkitan yang mengelola sejumlah pembangkit thermal berbahan bakar batubara, Indonesia Power telah melakukan ujicoba co-firing dengan pelet biomass pertama di Indonesia. Sejak uji coba co-firing pertamanya di PLTU Jeranjang pada Desember 2019 lalu, kini Indonesia Power melakukan co-firing di PLTU Banten 3 Lontar.

“Uji coba ini bakal dilanjutkan ke lima PLTU lainnya secara berturut, yaitu PLTU Suralaya, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Adipala, PLTU Suralaya 8, dan PLTU Labuan,” ungkapnya.

Co-firing adalah metode substitusi sebagian batubara dengan bahan bakar dari renewable energy pada rasio tertentu dan tetap memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai kebutuhan. Adapun bahan bakar substitusi yang digunakan adalah pelet SRF (Solid Recovered Fuel) atau RDF (Refused Derived Fuel).

Kedua jenis pelet ini dihasilkan dari pengolahan limbah domestik maupun limbah komersial yang bisa digunakan untuk co-firing pada PLTU tipe stoker, Circulating Fluidizing Bed (CFB), maupun pulverized coal (PC) boiler. Selain itu, pelet tersebut juga dapat digunakan untuk gasifier.

PT Indonesia Power ketika meluncurkan program Waste to Energi dengan melakukan co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar di Tangerang, Banten.

Dalam kesempatan itu, M. Ikhsan Asaad menyampaikan harapan dan rencana ke depan untuk program co-firing ini.

“Saya senang sekali karena program ini bisa berjalan dengan baik. Harapan kami ke depan, semuanya sudah bisa masuk ke tahap komersial, dan ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan ke depanya. Koordinasi yang baik dengan stakeholder terkait isu yang ada saat ini sudah bisa kita selesaikan,” ujar Ikhsan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here