, ,

IIGCE 2017 Digelar Awal Agustus

Posted by

Jakarta, Petrominer — Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) akan menggelar acara konvensi dan pameran tahunan tentang industri panasbumi. Acara bertitel Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) ini akan digelar pada 2-4 Agustus 2017 mendatang di Jakarta Convention Center.

Gelaran yang memasuki tahun kelima ini mengusung tema “Moving forward under Current Challenges, Obstacles and Oppurtunities toward Achieving Geothermal Development 2025 Target“. Dalam pertemuan ini, para pemangku kepentingan baik dari kalangan perusahaan pengembang kelistrikan, akademisi, lembaga internasional, maupun perusahaan pendukung industri berkumpul dan berdiskusi bersama Pemerintah.

“Pemerintah menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada API karena tetap melaksanakan kegiatan tahunannya ini,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana, ketika meluncurkan acara IIGCE 2017, Kamis (18/5).

Menurut Rida, acara ini menunjukkan bahwa kegiatan panasbumi masih eksis dan tetap berjalan sebagaimana diharapkan oleh Pemerintah guna mendukung kebijakan penyediaan tenaga listrik dari energi baru terbarukan, dengan target 7.200 megawatt (MW) di tahun 2025.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana.

“Target 7.200 MW tahun 2025 merupakan target yang ambisius. Karena hingga kini total kapasitas terpasang panasbumi baru sebesar 1.643,5 MW. Artinya, masih ada kekurangan sebesar 5.700 MW yang perlu dikembangkan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang atau 550 MW per tahun,” paparnya.

Sebelumnya, Ketua API Abadi Poernomo menjelaskan bahwa IIGCE sudah menjadi tradisi berkelanjutan bagi komunitas panasbumi. Acara itu merupakan ajang untuk berdiskusi masalah-masalah panasbumi serta berbagi pengalaman dan keahlian bagi kepentingan bersama antara industri, kampus dan pemerintah.

Menurut Abadi, tema yang diangkat kali ini sangat tepat dengan melihat situasi ekonomi serta kebijakan-kebijakan dan regulasi yang ada saat ini. Apalagi, hingga kini, tantangan dan hambatan-hambatan masih tetap ada dan harus dihadapi oleh para pengembang, sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran yang bersifat ‘breakthrough’.

Salah satu breaktrough, jelasnya, dengan menekan biaya-biaya di semua tahap kegiatan, baik dari survei, eksplorasi, drilling, sampai tahap pembangunan pembangkit listrik. Dengan begitu, bisa menghasilkan tarif listrik yang terjangkau.

Meski begitu, Abadi menegaskan bahwa kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan panasbumi masih tetap ada dan terbuka lebar untuk mencapai target yang telah dicanangkan sampai tahun 2025 mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *