
Jakarta, Petrominer – Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak pemerintah mengambil langkah darurat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang berulang di sejumlah daerah. Meski stok nasional dinyatakan aman, kelangkaan terbaru dilaporkan terjadi di Bali, setelah sebelumnya melanda Malang, Sintang, Kefamenanu, dan Bone Bolango.
CEO IESR Fabby Tumiwa menilai gangguan pasokan selama dua bulan terakhir menunjukkan tekanan serius pada rantai pasok BBM nasional. Kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah turut meningkatkan biaya pengadaan dan distribusi, sementara arus kas Pertamina menghadapi tekanan.
“Pemerintah tidak cukup hanya menjamin bahwa stok BBM nasional aman, tetapi harus memastikan BBM benar-benar tersedia dan dapat diakses masyarakat di seluruh daerah. Kelangkaan yang terus berulang menunjukkan perlunya penanganan segera terhadap rantai pasok dan distribusi BBM,” ujar Fabby, Selasa (13/10).
IESR mendesak pemerintah melakukan penanganan dalam tujuh hari ke depan melalui koordinasi krisis, redistribusi stok ke daerah terdampak, serta audit pasokan dan distribusi hingga tingkat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pemerintah juga diminta memprioritaskan BBM bagi layanan publik dan kegiatan ekonomi vital, serta menyampaikan informasi pasokan secara jelas kepada masyarakat.
“Kelangkaan BBM yang terjadi berulang bukan sekadar masalah distribusi, tetapi peringatan terhadap ketahanan energi nasional yang membutuhkan tindakan segera,” tegas Fabby.
Pertamina Sesuaikan Pasokan
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan perusahaan memperkuat koordinasi dan evaluasi untuk menjaga ketersediaan BBM di tengah peningkatan konsumsi dan kendala distribusi.
Menurut Kitty, antrean di sejumlah SPBU di Bondowoso, Jawa Timur, dipengaruhi kenaikan konsumsi Pertalite sebesar 16–20% dibandingkan kondisi normal. Peningkatan aktivitas masyarakat dan peralihan sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi turut mendorong kenaikan permintaan.
Pengiriman BBM juga menghadapi kendala akibat kepadatan lalu lintas di jalur Ketapang–Banyuwangi seiring pekerjaan perbaikan dermaga. Untuk mengantisipasinya, Pertamina Patra Niaga menyesuaikan suplai dengan memprioritaskan SPBU yang mengalami lonjakan kebutuhan, mengoptimalkan pasokan dari terminal terkait, serta memastikan kesiapan armada mobil tangki.
Koordinasi dengan Integrated Terminal (IT) Tanjungwangi dan IT Surabaya juga diperkuat untuk menjaga kelancaran distribusi. Perusahaan turut mengawasi penyaluran BBM, termasuk penerapan QR Code sesuai ketentuan dan indikasi pembelian berulang untuk dijual kembali dengan harga tinggi.
“Kami memastikan setiap dinamika di lapangan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang tepat, dengan tetap mengedepankan keandalan layanan dan kepentingan masyarakat,” ujar Kitty.
Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan, tetap tenang, dan mengikuti informasi melalui kanal resmi perusahaan.








Tinggalkan Balasan