Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional masih memperlihatkan tren menurun di penghujung tahun 2018. Penurunan ini terjadi sejak memasuki bulan Nopember 2018 lalu.

Penurunan harga ini diperkirakan bisa bertahan memasuki bulan Januari 2019. Harga diperkirakan terus melemah karena terpengaruh pertumbuhan perekonomian global yang semakin melemah.

Harga minyak diperkirakan terus tertekan karena meningkatnya produksi minyak dari negara-negara non-OPEC khususnya Amerika Serikat. Tidak hanya itu, harga akan terpengaruh oleh menguatnya nilai tukar dolar AS dibandingkan mta uang dunia lainnya.

Meski begitu, harga bisa terdongkrak naik karena adanya potensi peningkatan ketegangan geopolitik akibat kebijakan pemimpin AS yang menginginkan harga minyak yang rendah. Selain itu, OPEC dan beberapa negara Non-OPEC sepakat untuk mengurangi produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta bph. Sementara Kanada akan mengurangi produksi minyak mentah sebesar 325 ribu bph.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Januari 2019 ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 53,00-57,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 55,00-59,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 55,00-59,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 47,00-51,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Desember 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Senin (7/1), harga minyak mentah Indonesia mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 54,81 per barel, turun US$ 8,17 per barel dibandingkan bulan Nopember yang sebesar US$ 62,98 per barel. Sementara rata-rata ICP SLC turun sebesar US$ 8,30 per barel dari US$ 63,93 per barel menjadi US$ 55,63 per barel.

“Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga dipengaruhi oleh melemahnya perekonomian China yang diindikasikan dengan lemahnya pertumbuhan penjualan ritel dan pertumbuhan output industri, serta lemahnya permintaan minyak mentah jenis direct burning dari Jepang akibat penggunaan bahan bakar pengganti dan kondisi cuaca yang lebih hangat dibandingkan tahun sebelumnya,” tulis laporan SKK Migas.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami penurunan cukup besar dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent turun US$ 7,35 per barel dari US$ 64,74 per barel menjadi US$ 57,39 per barel.
  • WTI (Nymex) turun US$ 7,71 per barel dari US$ 56,69 per barel menjadi US$ 48,98 per barel.
  • Basket OPEC turun US$ 6,88 per barel dari US$ 65,33 per barel menjadi US$ 58,45 per barel.
  • Brent (ICE) turun US$ 8,28 per barel dari US$ 65,95 per barel menjadi US$ 57,67 per barel.

Penurunan harga yang sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir ini karena melimpahnya produksi minyak mentah dunia sesuai laporan dari publikasi International Energy Agency (IEA) dan OPEC bulan Desember 2018.

Rata-rata produksi minyak mentah OPEC di bulan November 2018 mengalami peningkatan sebesar 100 ribu barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya dan proyeksi pasokan minyak mentah negara-negara Non-OPEC di kuartal IV-2018 meningkat 180 hingga 400 ribu barel per hari menjadi 61,2 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya.

“Belum lagi ditambah kekhawatiran pasar atas melemahnya perekonomian global akibat eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta ketidakpastian Brexit yang dapat membebani perekonomian Eropa,” tulis laporan SKK Migas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here