Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Juli 2018 hampir stagnan. Meski begitu, harga sedikit menguat dibandingkan bulan sebelumnya dan masih bertahan di atas US$ 70 per barel.

Penguatan harga ini diperkirakan bisa bertahan sepanjang bulan Agustus 2018. Harga diperkirakan terus menguat karena terus meningkatnya permintaan minyak mentah di kawasan Asia Pasifik, terutama China dan India. Harga kian terdorong naik karena masih berlanjutnya ketegangan geopolitik di beberapa negara dunia dan juga kepatuhan anggota OPEC untuk memenuhi komitmen pembatasan produksi.

Meski begitu, harga bisa saja kembali melemah akibat adanya kenaikan produksi minyak mentah AS. Tidak hanya itu, perang perdagangan antara AS dan Cina bisa berpotensi negatif pada permintaan minyak dan tingkat ekonomi global.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Agustus 2018 ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 69,00-73,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 72,00-76,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 73,00-77,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 69,00-73,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Juli 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Rabu (15/8), harga minyak mentah Indonesia mengalami sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 70,68 per barel, naik US$ 0,32 per barel dibandingkan bulan Juni yang sebesar US$ 70,36 per barel. Sementara rata-rata ICP SLC naik sebesar US$ 1,32 per barel dari US$ 70,73 per barel menjadi US$ 72,05 per barel.

“Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah dipengaruhi oleh peningkatan pembangunan infrastruktur di China yang menyebabkan peningkatan permintaan minyak mentah di negara tersebut,” tulis laporan SKK Migas.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent naik US$ 0,002 per barel dari US$ 74,33 per barel menjadi US$ 74,35 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 3,26 per barel dari US$ 67,32 per barel menjadi US$ 70,58 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 0,26 per barel dari US$ 73,01 per barel menjadi US$ 73,27 per barel.
  • Sedangkan Brent (ICE) turun US$ 0,99 per barel dari US$ 75,94 per barel menjadi US$ 74,95 per barel.

Penguatan harga ini dipengaruhi oleh kekhawatiran para pelaku pasar terhadap kondisi ketegangan geopolitik dan krisis ekonomi yang terjadi belakangan ini. Contohnya, mulai memanasnya ketegangan antara Presiden AS dan Presiden Iran sehingga meningkatkan potensi resiko geopolitik. Harga juga dipengaruhi laporan International Monetary Fund (IMF) yang menyebutkan bahwa krisis ekonomi Venezuela menyebabkan terjadinya penurunan produksi minyak mentah Venezuela yang mencapai titik paling rendah selama 30 tahun terakhir, yaitu mencapai 1,5 juta barel per hari.

Tidak hanya itu, harga sedikit menguat karena dipengaruhi oleh perkirakan kenaikan permintaan minyak mentah global tahun 2018. Sementara pasokan minyak dari negara-negara OPEC diperkirakan menurun karena kepatuhan anggota OPEC atas komitmen pembatasan produksi menjadi 1,18 juta barel per hari.

“Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh kesepakatan AS dan Eropa untuk menghindari perang perdagangan internasional dengan penundaan penerapan tarif pajak oleh AS untuk kendaraan dan komponen mesin dari Eropa,” tulis laporan SKK Migas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here