Jakarta, Petrominer – Pengelola Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), atau yang dikenal sebagai Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), terus berusaha agar Indonesia sebagai acuan harga untuk timah dunia. Salah satunya adalah dengan mulai mengimplementasikan perdagangan kontrak berjangka (future).

Menurut Presiden Direktur ICDX, Lamon Rutten,sebagai ekspotir timah terbesar, Indonesia memang sudah seharusnya memiliki posisi yang kuat dalam penentuan harga global. Karena itu, idealnya pelaku usaha di dalam negeri secara mandiri dapat menjalankan pembentukan pasar dan harga komoditas tersebut.

“Ada beberapa alasan yang mendasari kekuatan Indonesia sebagai salah satu produsen timah dunia,” ujar Rutten, Kamis (5/10).

Pertama, sebagai salah satu produsen, hampir 97 persen produksi timah dari Indonesia diekspor ke sejumlah negara, antara lain ke Singapura, Belanda, Jepang, Amerika Serikat, India dan Tiongkok.

Kedua, diharapkan pada bulan Januari 2018, ICDX mulai memperdagangkan kontrak berjangka (futures) bagi komoditi timah. Sejak Agustus 2013, pasar fisik timah mulai diperdagangkan melalui ICDX. Hal ini tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, namun sekaligus menjadi referensi harga timah baik di pasar dalam negeri maupun pasar dunia.

Ketiga, melalui pendirian anak perusahaan ICDX yakni Pusat Logistik Berikat (PLB) khusus untuk ekspor timah Indonesia, tidak hanya memperkuat pendirian sistem resi gudang, melainkan juga akan mendukung dimulainya kontrak perdagangan berjangka (futures contract).

“Untuk memudahkan agar semua produk timah yang masuk PLB nantinya mendapat fasilitas kredit dengan bunga rendah, maka ICDX bekerjasama dengan pihak perbankan,” papar Rutten.

Dalam kesempatan itu, dia menyatakan optimis perdagangan berjangka timah akan mengalami pertumbuhan yang lebih bagus dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Sikap itu disampaikan berdasarkan pengalamannya sebagai Managing Director and Chief Executive Multi Commodity Exchange of India.

Menurutnya, selama tiga tahun pertama beroperasi, volume kontrak perdagangan berjangka tumbuh melandai dengan pencapaian tiga kali lebih tinggi dari perdagangan bursa fisik. Namun dalam kurun waktu lima tahun berikutnya, volume perdagangan kontrak di bursa berjangka akan mengalami pertumbuhan delapan kali lebih tinggi dari perdagangan fisik.

Sebagai gambaran, Rutten memaparkan harga rata-rata timah selama periode Januari-September 2017 yang senantiasa berfluktuasi.

Mengutip data dari ICDX, pada awal tahun 2017, harga rata-rata timah yang diperdagangan di bursa ICDX adalah US$ 20.861 per MT. Pada bulan April 2017, harga sedikit terkoreksi menjadi US$ 20.038 per MT. Ketika mencapai bulan Juli, harga mulai meningkat menjadi US$ 20.242 per MT. Terus menguat, hingga pada bulan September 2017 mencapai US$ 20.725 per MT.

Menurut Rutten, kontrak perdagangan berjangka timah, memang menjadi indikasi yang cukup baik bagi Indonesia. Selain ditandai dengan situasi membaiknya harga dunia, yang didukung juga oleh tingginya animo dari penyelenggara “tin futures,” situasi Myanmar yang baru saja memasuki pasar timah dunia dalam tiga tahun terakhir telah menjadikan negara tersebut kurang baik atau kurang sustainable dengan kondisi yang ada.

Sementara itu, Komite Perdagangan Timah ICDX yang mewakili pelaku usaha telah memberi jaminan dan kepastian bahwa perdagangan timah akan terselenggara secara fair dan transparan. Komite ini beranggotakan para pelaku pasar timah antara lain Viant Securities (Singapura), Toyota Tsusao (Jepang), TMT Metals (India), Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), dan ICDX.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here