Tambang nikel.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian berupaya untuk terus fokus meningkatkan kinerja sektor industri manufaktur. Apalagi, sektor ini menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu kebijakan strategis yang tetap dijalankan adalah hilirisasi industri.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kita perlu memperkuat hilirisasi sektor industri manufaktur. Kami optimistis ini dapat kita lakukan, karena selama ini telah terbukti sebagai prime mover bagi perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin (26/12).

Menurut Agus, multiplier effect atau dampak berganda dari aktivitas hilirisasi industri telah terbukti nyata. Mulai dari meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menarik investasi masuk di tanah air, menghasilkan devisa besar dari ekspor, hingga menambah jumlah serapan tenaga kerja.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Kemenperin fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri di tiga sektor, yakni industri berbasis agro, berbasis bahan tambang dan mineral, serta berbasis migas dan batubara.

Untuk mencapai sasaran tersebut, Pemerintah telah bertekad menciptakan iklim usaha yang kondusif agar bisnis bisa berjalan baik. Selain itu, diperlukan juga sinergi dan koordinasi antara pemerintah dengan dunia usaha.

“Seperti yang ditegaskan oleh Presiden, secara bertahap kita akan menyetop bahan baku mentah seperti minerba. Kita sudah setop ekspor nikel, selanjutnya setop ekspor bauksit,” ungkap Agus.

Terkait pengembangan industri berbasis tambang dan mineral, Kemenperin terus berupaya memacu nilai tambah pada lima komoditas, yaitu bijih tembaga, bijih besi dan pasir besi, bijih nikel, bauksit, serta logam tanah jarang. Perkembangan hilirisasi di sektor ini telah menghasilkan 27 pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter), yang telah beroperasi meliputi pyrometallurgy dan hydrometallurgy nikel. Sementara 32 smelter dalam tahap konstruksi, dan enam lainnya masih tahap feasibility study.

Ke depannya, Menperin berharap smelter nikel tidak hanya melakukan ekspor dalam bentuk NPI maupun bahan baku baterai. Fasilitas ini diharapkan juga bisa ekspor dalam bentuk produk lebih hilir, seperti stainless steel dan baterai listrik.

“Kemampuan hilirisasi sektor ini juga akan menghasilkan produk-produk di hilir atau produk jadi seperti peralatan kesehatan, dapur, kedirgantaraan dan kendaraan listrik. Peningkatan nilai tambah dari bijih nikel bisa mencapai 340-400 kali lipat,” paparnya.

Lebih lanjut, Agus menyebutkan bahwa dampak positif dari hilirisasi sektor tambang dan mineral telah menunjukkan peningkatan signifikan pada capaian nilai ekspor nasional. Hingga Oktober 2022, nilai ekspor dari industri ini menembus US$ 36,4 miliar, naik 40 persen dibandingkan tahun lalu.

“Kami menargetkan, pertumbuhan di sektor ini pada tahun 2022 mencapai dua digit, di angka 10-11 persen,” tandasnya.

Smelter Nikel

Dalam upaya mewujudkan kemandirian di bidang industri, dan sebagai upaya merealisasikan hilirisasi, PT Indo Nickel Industri bekerjasama dengan Pinggao Group Company Limited telah menandatangani pembangunan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Nickel Smelter Project Indonesia–Engineering Procurement and Construction Contract. Kolaborasi ini untuk membangun proyek smelter nikel di Kecamatan Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Penandatanganan kontrak dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu antara Direktur Utama Indo Nickel Industri, Helmut Hermawan, dengan Direktur Utama Pinggao Group Co. Ltd., Cao Mingxiang.

Menurut Helmut penandatanganan kerjasama ini mengawali rangkaian pembangunan proyek kerjasama pembangunan RKEF smelter nikel senilai lebih dari US$ 50 juta. Untuk mendukung program hilirisasi ini, dibutuhkan listrik dengan kapasitas 1 X 36 ribu KVA (setara 36 Mega Volt Ampere).

Proses konstruksi pembangunan smelter ini akan berlangsung selama 18 bulan. Sementara peletakan batu pertama (ground breaking) akan dilakukan di bulan Desember ini, atau selambat-lambatnya pada Januari 2023.

Dengan menggandeng Pinggao Group, selaku kontraktor Engineering Procurement and Construction (EPC), biji nikel (ore) yang selama ini di tambang di Malili akan langsung diolah menjadi feronikel dengan kadar nikel (Ni) 10-12 persen. Kapasitas produksi diperkirakan bisa mencapai 64 ribu ton feronikel setiap tahunnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here