Cilegon, Petrominer – PT Pertamina (Persero) memulai transformasi infrastruktur energi nasional. Diawali dengan inisiasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten. Langkah ini menandai fase penting transformasi hilir Pertamina.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan langkah ini merupakan upaya penguatan ketahanan dan swasembada energi yang lebih berkelanjutan. Green Terminal merupakan bagian dari implementasi Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 Pertamina, sekaligus upaya memperkuat daya saing perusahaan di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.
“Transformasi ini memastikan bahwa infrastruktur energi nasional tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga relevan dengan standar keberlanjutan global. Dengan mengintegrasikan teknologi hijau dan tata kelola yang lebih baik, Pertamina memperkuat fondasi ketahanan energi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko jangka panjang,” ujar Agung usai melakukan kick off inisiatif ESG 2026 Green Terminal Tanjung Sekong, Rabu (11/2).
Terminal LPG Tanjung Sekong memiliki kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 metrik ton dan dermaga yang mampu melayani kapal hingga 65.000 DWT. Perannya sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasokan LPG rumah tangga nasional. Transformasi di fasilitas ini menunjukkan komitmen Pertamina bahwa agenda keberlanjutan dimulai dari infrastruktur inti yang menopang ketahanan energi Indonesia.
Green Terminal tidak sekadar sertifikasi fasilitas, melainkan pendekatan menyeluruh terhadap tata kelola operasional yang mengintegrasikan delapan pilar keberlanjutan, mulai dari sistem manajemen lingkungan, digitalisasi operasional, pemanfaatan peralatan ramah lingkungan, penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah, hingga penguatan kapasitas SDM melalui praktik terbaik lingkungan.
Terminal yang strategis ini menyuplai sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional. Dan kini, menjadi proyek percontohan pengelolaan terminal berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus operasional rendah karbon.
Salah satu terobosan utama dalam inisiatif ini adalah pengembangan ekosistem Green Hydrogen. Melalui sinergi antar entitas, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memproduksi hidrogen hijau berbasis panas bumi dari Ulubelu, yang kemudian didistribusikan oleh PT Elnusa Petrofin dan dimanfaatkan oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET) sebagai sumber listrik rendah karbon di Tanjung Sekong.
“Skema ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal, sekaligus menurunkan emisi Scope 2 secara signifikan,” jelas Agung.
Bagi investor, inisiatif Green Terminal mencerminkan pengelolaan risiko non-finansial yang semakin terukur. Dekarbonisasi operasional tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi eksposur terhadap volatilitas biaya listrik konvensional di masa depan.
“Ke depan, model Green Terminal di Tanjung Sekong akan menjadi referensi pengembangan terminal energi lainnya dalam jaringan Pertamina. Transformasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi agenda tambahan, melainkan bagian dari strategi inti perusahaan dalam menjaga kedaulatan energi nasional sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan,” ucapnya.








Tinggalkan Balasan