
Bandung, Petrominer – Pemanfaatan panas bumi di Kamojang, Kabupaten Bandung, tak berhenti pada pembangkitan listrik. Melalui inovasi Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang membantu petani mengolah limbah organik menjadi pupuk sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Hasilnya terlihat dalam panen sekitar 70 ton kubis varietas Granova oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun. Panen tersebut merupakan bagian dari program HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) yang digelar PGE sepanjang September 2026.
Kubis yang dipanen memiliki bobot hingga sekitar 6 kilogram per buah, atau dua kali lipat rata-rata kubis lokal yang sekitar 3 kilogram. Hasil panen bernilai sekitar Rp78 juta, sementara penggunaan GeO-Fert menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.
Untuk budidaya di lahan seluas 1,2 hektare tersebut, petani menggunakan sekitar 30 ton GeO-Fert. Pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk organik cair diaplikasikan setiap 15 hari selama masa budidaya.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan GeO-Fert menjadi contoh pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik atau Beyond Electricity.
“Lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” ujar Andi.
Manfaatkan Ekses Uap
GeO-Fert dikembangkan PGE Area Kamojang bersama KTH Cikondang dengan memanfaatkan ekses uap dari PLTP Kamojang bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik.
Teknologi tersebut memangkas waktu pengeringan dari sekitar 14 hari dengan metode konvensional menjadi hanya sekitar 12 jam.
Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni mengatakan, inovasi tersebut membantu masyarakat memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak terpakai sekaligus mendukung kemandirian pupuk.
“Dari sana, pupuk GeO-Fert bisa membantu menyuburkan tanah dan mendukung hasil panen para petani,” katanya.
Penggunaan GeO-Fert sebelumnya juga menunjukkan hasil pada komoditas kentang. Pada April 2026, produktivitas kentang di lahan sekitar 4.200 meter persegi mencapai 7.581 kilogram dengan GeO-Fert, dibandingkan 4.525 kilogram melalui metode konvensional.
Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau hemat sekitar Rp23,5 juta. GeO-Fert kini turut dimanfaatkan untuk budidaya cabai, tomat, dan labu siam.
Perluas Manfaat
General Manager PGE Area Kamojang, Albertus Novi Purwono, mengatakan program HAREPAN menunjukkan bahwa panas bumi dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas dan efisiensi usaha tani masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Energi panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian hingga menghasilkan panen yang memberikan nilai tambah bagi petani,” ujarnya.
GeO-Fert merupakan bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh.
Ekosistem tersebut mengintegrasikan energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat. Selain pupuk, masyarakat Kamojang mengembangkan berbagai produk hasil bumi, termasuk keripik, teh daun kopi, ikan asin, dan pakan ikan yang memanfaatkan teknologi pengeringan berbasis energi panas bumi.
Bagi PGE, pengembangan GeO-Fert menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat panas bumi sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).









Tinggalkan Balasan