, ,

Genjot Investasi Hijau, Jawa Tengah Diminta Lakukan 5 Hal Ini

Posted by

Semarang, Petrominer   Jawa Tengah mempunyai modal kuat untuk mempercepat transisi beralih ke energi terbarukan dan menumbuhkan ekonomi yang rendah emisi. Daerah ini dapat memanfaatkan melimpahnya potensi teknis energi terbarukan hingga 201 gigawatt (GW) untuk mendongkrak pencapaian target bauran energi terbarukan dan menarik lebih banyak investasi di sektor energi terbarukan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengungkapkan Jawa Tengah mempunyai potensi energi surya yang tinggi, yakni mencapai 194 GW. Tersebar di 12 wilayah di Jawa Tengah, di antaranya di Kabupaten Wonogiri, Boyolali, Semarang, Brebes, Kudus, Rembang, Wonosobo, dan Banjarnegara.

“Analisis IESR menemukan potensi proyek PLTS yang layak secara finansial mencapai 13,5 GW.  Namun berdasarkan RUPTL 2025–2034, baru merencanakan pengembangan PLTS di Jawa Tengah sebesar 3,8 GW pada tahun 2034,” ungkap Fabby dalam forum investasi energi terbarukan di Semarang, Kamis (26/6).

Acara tersebut, yang bertajuk “Central Java Renewable Energy Investment Forum: Unlocking Renewable Energy and Green Industry Investment Potential in Central Java,” diselenggarakan oleh IESR bekerja sama dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah. Diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2022, forum ini mempertemukan pemangku kepentingan, investor, dan pelaku industri.

Lebih lanjut, Fabby menyampaikan  bahwa dunia tengah mengalami tren pertumbuhan investasi energi terbarukan yang meningkat dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan investasi di energi fosil. Malahan, investor global semakin memfokuskan pendanaannya pada aset-aset hijau atau yang memenuhi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Kini, investor global mulai meninggalkan proyek energi fosil yang kotor. Arah investasi juga mulai bergeser ke kawasan Asia Pasifik,” ungkapnya.

Karena itulah, Fabby menekankan lima aksi prioritas yang dapat ditempuh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendorong Jawa Tengah menjadi pusat industri hijau yang berdaya saing. Pertama, menyusun peta jalan investasi hijau (Green Investment Roadmap) 2025-2035 yang mengintegrasikan target energi terbarukan,  strategi transformasi industri, dan rencana pembangunan infrastruktur hijau.

Kedua, membentuk unit khusus investasi hijau, sebagai pusat layanan terpadu bagi investor, lengkap dengan prosedur khusus dan insentif yang mendukung. Ketiga, meluncurkan inisiatif Kawasan Industri Hijau (Green Industrial Park) di lokasi-lokasi strategis. Kawasan industri ini harus mendukung penerapan energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan teknologi manufaktur ramah lingkungan, termasuk untuk UMKM dan IKM.

Keempat, memperkuat kemitraan dengan lembaga keuangan untuk memastikan tersedia berbagai skema pendanaan hijau yang inovatif. Dan kelima, berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui program pelatihan keterampilan hijau, dan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi.

Kearifan Lokal

Dalam sambutannya mewakili Gubernur Jawa Tengah, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan bahwa Pemerintah Jawa Tengah turut mendorong dan memfasilitasi rencana investasi energi baru terbarukan melalui forum-forum investasi. Berbagai upaya ini bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan energi di masa depan.

“Di Jawa Tengah, kami terus berupaya mendorong terwujudnya transisi energi yang berkeadilan, berbasis kearifan lokal, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Sujarwanto.

Dia mencotohkan salah satunya melalui Program Desa Mandiri Energi sebagai bentuk apresiasi kepada desa dan masyarakat yang telah mengembangkan potensi energi baru terbarukan di wilayahnya. Begitu juga dengan mendorong masuknya investasi hijau melalui DPMPTSP dan mengajak industri untuk berpartisipasi dengan menggunakan energi terbarukan seperti PLTS atap untuk operasional pabrik.

Secara ekonomi, Jawa Tengah menunjukkan daya saing yang kompetitif dengan lima kawasan industri unggulan. Secara geografis, Jawa Tengah juga berada di jalur utama perekonomian nasional. Lokasinya yang strategis memberikan kemudahan akses ke Pelabuhan Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Tanjung Priok.

“Keunggulan ini semakin diperkuat dengan tersambungnya jaringan jalan tol, yang memberikan nilai tambah dalam rantai pasok industri hijau,” ungkap Sujarwanto.

Sebagai upaya memudahkan investor dalam mengenali peluang investasi energi terbarukan di Jawa Tengah, IESR bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerbitkan Book of Prospect. Dokumen ini memuat 16 profil proyek-proyek energi terbarukan, lengkap dengan data dan infografis potensi investasi sekitar US$ 8,26 miliar atau Rp 132 triliun di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *