
Bangkok, Petrominer – Ekspansi bioenergi di Asia mulai menimbulkan tekanan terhadap hutan, keanekaragaman hayati, dan penghidupan masyarakat. Dampak tersebut diungkap melalui dua film dokumenter yang ditayangkan perdana dalam rangkaian Bangkok Climate Action Week, Rabu (7/10).
Film produksi Solutions for Our Climate (SFOC) menelusuri ekspansi biofuel dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga meningkatnya permintaan di Korea Selatan. Sementara itu, film produksi Global Environment Forum (GEF) yang berbasis di Jepang mengangkat ekspansi biomassa hutan dan perkebunan energi di Indonesia.
Kedua film menunjukkan keterkaitan meningkatnya permintaan bioenergi dari negara konsumen seperti Korea Selatan dan Jepang dengan perubahan penggunaan lahan dan tekanan lingkungan di Asia Tenggara.
Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan perwakilan Trend Asia/Koalisi Transisi Bersih, SFOC, dan GEF. Diskusi membahas dampak ekspansi bioenergi di negara produsen maupun konsumen, sekaligus bagaimana mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Forest and Land Use Program Officer SFOC sekaligus tokoh utama dalam film dokumenter, Marihel Parda Winda, mengatakan ekspansi perkebunan monokultur telah menghilangkan berbagai fungsi hutan bagi masyarakat.
“Sungguh memilukan melihat kerusakan yang terjadi di sekitar tempat tinggal saya. Ketika hutan digantikan oleh perkebunan monokultur, masyarakat kehilangan begitu banyak hal yang disediakan oleh hutan, mulai dari keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan hingga berbagai fungsi yang menopang kehidupan mereka,” ujar Marihel.
Film tersebut dibangun berdasarkan riset SFOC mengenai rantai pasok biodiesel berbasis kelapa sawit antara Indonesia dan Korea Selatan. Laporan berjudul “Behind Korea’s Biofuels: Sustainability Risks in Indonesia–Korea Palm Oil Supply Chains” menemukan minyak sawit dan turunannya menyumbang 72% bahan baku biodiesel Korea Selatan pada tahun 2024, atau empat kali lipat dibandingkan saat kebijakan pencampuran biodiesel mulai diterapkan tahun 2015.
Sebagian besar bahan baku tersebut berasal dari Indonesia. Riset yang sama menemukan lebih dari 90% volume ekspor yang diteliti dan ditujukan ke Korea Selatan terkait dengan kasus terdokumentasi mengenai degradasi ekosistem, konflik hak atas tanah, atau kegagalan tata kelola di Indonesia.
SFOC memperingatkan, tanpa perlindungan lingkungan dan sosial yang lebih kuat, Korea Selatan berisiko menjadi pasar bagi bahan baku biofuel berisiko tinggi ketika pasar lain mulai menerapkan persyaratan keberlanjutan yang lebih ketat.
“Permintaan yang datang dari negara dan pemerintah lain turut mendorong kerusakan ini, dan kita perlu bertanya mengapa hal ini terus terjadi. Transisi energi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hutan dan sumber penghidupan masyarakat,” kata Marihel.
Bioenergi skala besar dapat menimbulkan dampak lingkungan dan sosial ketika hutan dan lahan pertanian terutama diperlakukan sebagai sumber bahan bakar. Dampaknya mencakup deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, emisi gas rumah kaca di sepanjang rantai pasok, konflik lahan, serta tekanan terhadap masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada hutan dan lahan.
Dorong Deforestasi
Program Manager Trend Asia dan anggota Koalisi Transisi Bersih, Amalya Oktaviani, mengatakan kelapa sawit serta industri pulp dan kertas masih menjadi pendorong utama deforestasi di Indonesia. Tekanan tersebut kini bertambah seiring meningkatnya permintaan bioenergi.
“Ketika transisi energi terus bergantung pada perkebunan skala besar untuk suplai feedstock bioenergi, kita menciptakan solusi semu—sesuatu yang dipromosikan sebagai energi terbarukan, tetapi pada saat yang sama menyebabkan hilangnya hutan dan tetap meletakkan beban eksternalitas pada masyarakat,” ujar Amalya.
Dia mengatakan perubahan pendekatan diperlukan dalam transisi energi, termasuk dalam menangani sektor transportasi dan persaingan antara pangan dan bahan bakar. “Kita tidak lagi memiliki kuota untuk memperluas perkebunan sementara ketimpangan semakin dalam dan tekanan terhadap lingkungan terus meningkat,” katanya.
Amalya mendorong peralihan dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi restoratif. Menurut dia, manfaat dan insentif pengembangan biodiesel sebagian besar dinikmati korporasi besar, sementara petani kecil dan masyarakat sering kali menanggung biaya lingkungan dan sosialnya.
“Masyarakat perlu diperkuat agar dapat memahami dan mempertahankan apa yang terjadi terhadap hutan mereka, sekaligus membangun alternatif ekonomi yang memulihkan, bukan menghancurkan, ekosistem,” ungkapnya.








Tinggalkan Balasan