, ,

Ditunggu, Strategi Jitu Pemerintah Sikapi Kenaikan Harga Minyak

Posted by

Jakarta, Petrominer – Anggota Komisi VII DPR RI Rofi’ Munawar mengingatkan Pemerintah agar melakukan antisipasi terhadap tren kenaikan harga minyak dunia yang fluktuatif di kisaran US$ 60 per barel dalam tiga bulan terakhir. Pasalnya, kenaikan harga tersebut berpotensi menaikan besaran subsidi energi.

“Tren kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi mendorong pembengkakan subsidi energi nasional. Hal ini bisa terjadi seperti tahun lalu, di mana besaran subisdi BBM dan LPG 3 kg naik menjadi Rp 47 triliun dari target APBNP Rp 44,5 triliun,” ujar Rofi’ Munawar dalam siaran pers yang disampaikan, Senin (29/1).

Menurut Anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi oleh banyak factor. Terutama dari sisi eksternal seperti situasi geopolitik dan komitmen pembatasan produksi minyak global dari negara produsen.

Menyikapi kondisi tersebut, dia menegaskan perlunya strategi yang cermat dan jitu dari Pemerintah dalam mengelola subsidi energi. Pemerintah harus segera merumuskan formula dan strategi yang tepat dari setiap kenaikan angka ICP yang berkembang. Terlebih kenaikan ICP secara faktual tidak sesuai alokasi anggaran energi yang telah dipatok pada Anggaran Peneriman Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 46 ribu barel per hari.

Tidak hanya itu, Pemerintah juga diminta secara efektif meningkatkan produksi migas nasional. Ironisnya, cukup banyak lapangan minyak yang pengelolaannya di tahun 2018 dalam fase terminasi dan transisi.

“Kenaikan harga minyak dunia harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai peluang untuk mengungkit penerimaan negara. Dan tentu saja, dilakukan secara hati-hati sambl menjaga konsumsi BBM yang tetap proporsional,” tegas Rofi’.

Legislator asal Jawa Timur ini menambahkan, harga minyak yang lebih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, terutama jika belanja konsumen terdampak langsung. Padahal daya beli dan konsumsi selama ini menjadi tulang punggung menggerakan ekonomi nasional. Namun, perlu ikhtiar yang lebih serius dalam jangka panjang agar harga minyak yang lebih tinggi dapat mendorong konsumen untuk melakukan diversifikasi konsumsi.

“Indonesia saat ini menghadapi penurunan cadangan energi fosil khususnya minyak bumi, ini terus terjadi dan belum diimbangi dengan penemuan cadangan baru. Di sisi lain, konsumsi energi terus meningkat,” paparnya.

Menurut Rofi, dengan kondisi itu Indonesia rentan terhadap gangguan yang terjadi di pasar global khususnya produk minyak bumi yang dipenuhi dari impor. Energi Baru Terbarukan (EBT) merupakan solusi yang harusnya bisa didorong oleh pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan akan energi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *