Penghargaan Mitra Bakti Husada Kategori Corporate Social Responsibility (CSR) Award bidang kesehatan tahun 2019 kepada PT Pertamina EP diserahkan oleh Dirjen Kesehatan Masyarakat dr. Kirana Pritasari kepada General Manager Pertamina EP Asset 5, Andri Haribowo, Selasa (12/11).

Jakarta, Petrominer – Kementerian Kesehatan menganugerahkan Penghargaan Mitra Bakti Husada Kategori Corporate Social Responsibility (CSR) Award bidang kesehatan tahun 2019 kepada PT Pertamina EP. Program kesehatan yang mendapat apresiasi tersebut adalah program kesehatan Pantas Pentas (Pantang Anak Stunting, Pencegahan Anak Stunting) yang diimplementasikan oleh Pertamina EP Asset 5 Sangasanga Field.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka peringatan hari Kesehatan Nasional. General Manager Pertamina EP Asset 5, Andri Haribowo, menerima langsung penghargaan tersebut yang diserahkan oleh Dirjen Kesehatan Masyarakat dr. Kirana Pritasari di di ruang Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementrian Kesehatan, Selasa lalu (12/11).

“Semoga penghargaan ini bisa semakin memotivasi kami semua dalam menjalankan program Pantas Pentas tersebut, sehingga tujuan utama yaitu menjadikan mayarakat sekitar bebas stunting dapat tercapai,” ujar Andri dalam siaran pers yang diterima Petrominer, Jum’at (15/11).

Dia juga menuturkan rasa syukur atas penghargaan yang diraih tersebut, dan mengucapkan terima kasih kepada pihak kementerian. “Kedepannya, kami akan semakin meningkatkan lagi program ini,” tegasnya.

Sangasanga Field Manager, Jemy Oktavianto, menjelaskan bahwa program Pantas Pentas sudah mulai berjalan sejak awal tahun 2019. Screening dilaksanakan di kecamatan Samboja selaku ring satu wilayah kerja Sangasanga Field untuk menjaring anak-anak usia di bawah dua tahun (balita), khususnya yang mengidap stunting.

“Selanjutnya, kita melaksanakan program perbaikan gizi bagi anak-anak yang terdeteksi mengidap stunting. Kita support tambahan gizi agar predikat stunting tersebut hilang,” ujar Jemy.

Dalam pelaksanaannya, Sangasanga Field juga melibatkan masyarakat sekitar untuk menjadi kader dalam program tersebut. Para kader itu turun ke lapangan dan aktif dalam memonitoring para balita.

“Kami memiliki Comunity Base Health Care System. Melalui program ini, kader kami aktif turun ke masyarakat, bukan orang tua balita yang datang ke Puskesmas. Tentunya kami juga berkoordinasi dan didukung oleh stakeholder setempat, ” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here