
Cilegon, Petrominer – Sejalan dengan upaya menuju sertifikasi Green Terminal Tanjung Sekong, PT Pertamina Energy Terminal (PET) Tanjung Sekong membuktikan bahwa operasional terminal dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Ini dilakukan melalui integrasi antara teknologi ramah lingkungan, yakni pemanfaatan PLTS, dan pemberdayaan manusia.
Di Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, sekelompok ibu rumah tangga kini memiliki aktivitas produktif yang ramah lingkungan. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa, mereka mengelola kebun hidroponik yang tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga simbol transformasi energi di tingkat masyarakat.
Program bertajuk “KreaSea Tumbuh” ini merupakan inisiatif CSR Pertamina Energy Terminal melalui Terminal LPG Tanjung Sekong. Program ini dirancang sebagai bagian dari pilar Green Terminal, yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.
Program ini menyasar kelompok rentan untuk meningkatkan kapabilitas individu. Selain 30 anggota KWT, program ini juga melibatkan kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima PKH, lansia, hingga pengangguran usia produktif untuk diberikan pelatihan keterampilan.
Melalui integrasi antara teknologi ramah lingkungan (PLTS) dan pemberdayaan manusia, Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong membuktikan bahwa operasional terminal dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi, sejalan dengan upaya menuju sertifikasi Green Terminal Tanjung Sekong.
Energi Terbarukan dan Efisiensi
Selaras dengan visi Green Terminal, operasional rumah hidroponik ini telah beralih dari energi fosil ke energi bersih. Pertamina melakukan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp sebagai sumber energi utama. Langkah ini memberikan dampak lingkungan nyata dengan estimasi penurunan emisi karbon mencapai 1,75 ton CO2 eq/tahun.
Selain aspek energi, PET juga membantu mengatasi kendala teknis aliran air yang sebelumnya dikeluhkan anggota kelompok, dengan inovasi incremental. Yakni inovasi dengan pemasangan tangki tekan air yang berfungsi menstabilkan aliran air ke rak tanaman, serta double wall insulation untuk melindungi pipa dari lumut sehingga aliran air tetap efisien.
Dukungan PET telah mengubah sistem pertanian rumah tangga yang awalnya tidak terstruktur menjadi operasional yang tertata dan berkelanjutan.
Sejak pembangunan rumah hidroponik pada September 2024, skala program meluas secara signifikan. Kegiatan yang awalnya hanya sebatas coba-coba, kini berkembang menjadi aktivitas rutin. Selain memperkuat ketahanan pangan, program hidroponik juga sudah mulai memberikan penghasilan tambahan bagi warga, seiring dengan meningkatnya partisipasi warga menjadi 30 orang dari sebelumnya yang hanya berjumlah 9 orang pada tahun 2023 lalu.
Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati, menyampaikan bahwa awalnya program hidroponik dilakukan secara manual. Namun setelah didukung bantuan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina, program hidroponik sekarang lebih tertata dan hasil panen lebih maksimal.
Bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, kebun hidroponik ini juga menjadi ruang belajar dan pemberdayaan bagi ibu-ibu di lingkungan RW 06. Ani menilai manfaat yang dirasakan bukan hanya ekonomi, tetapi juga peningkatan keterampilan.
“Dari yang awalnya tidak paham, sekarang kami bisa berbagi pengetahuan ke keluarga, teman-teman yang lain,” ujar Ani.
Keuntungan panen disisihkan untuk dibagikan menjelang bulan puasa sebagai bentuk kebersamaan. Ke depan, KWT Wahid Sapa berharap program ini dapat terus berkembang.
“Harapan kami tidak hanya di sayuran, tapi program ini berkembang ke budidaya buah ,” ujar Ani.







