
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam pengelolaan lingkungan dan sosial. Di ajang Anugerah Lingkungan PROPER 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, dua area kerjanya meraih penghargaan PROPER Emas, yakni Area Kamojang dan Area Ulubelu.
Bagi Area Kamojang, ini merupakan perolehan PROPER Emas ke-15 berturut-turut. Sementara Area Ulubule, menjadi ke-4 kalinya. Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, Selasaa (7/4).
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan penghargaan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan potensi panas bumi secara end-to-end serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Capaian ini semakin memperkuat posisi PGE sebagai world class green energy company, yang tidak hanya menghasilkan energi bersih secara andal tetapi juga tumbuh bersama masyarakat serta memberikan dampak nyata dan terukur bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“PROPER Emas merupakan bukti dari cara kami beroperasi, yang mengintegrasikan keunggulan teknis dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial yang terukur. Kami ingin memastikan bahwa setiap tetes uap panas bumi yang kami manfaatkan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ungkap Ahmad Yani.

Ekosistem Agri-Akuakultur
Berbeda dengan pemanfaatan panas bumi yang umumnya berfokus pada pembangkitan listrik, keberhasilan Area Kamojang kali ini didorong oleh terobosan pemanfaatan langsung energi panas bumi (direct use). Melalui program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal), yang diinisiasi tahun 2013, PGE memanfaatkan excess steam atau uap panas bumi yang sebelumnya belum termanfaatkan menjadi penggerak ekonomi sirkular masyarakat sekitar.
General Manager PGE Area Kamojang, I Made Budi Kesuma Adi Putra, menjelaskan program ini merupakan evolusi dari pendekatan sebelumnya. Inovasi ini mengintegrasikan kelebihan uap panas bumi dan pemanfaatan limbah non-B3 untuk membangun ekosistem pertanian dan perikanan yang berkelanjutan.
“Kami mengembangkan program KANYAAH dengan pendekatan ekonomi sirkular yang membangun sistem saling terhubung sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi,” ujar I Made Budi.
Melalui strategi tersebut, paparnya, Kamojang tidak hanya berperan sebagai penghasil energi bersih, tetapi juga berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan energi panas bumi sebagai potensi alam setempat. Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal tersebut, PGE mendorong agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.
Program ini berjalan melalui empat pilar yang saling terhubung dalam skema ekonomi sirkuler. Di sektor pertanian, PGE menghadirkan Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) yang telah menghasilkan 193,8 ton pupuk ramah lingkungan. Pupuk tersebut dimanfaatkan pada 12,34 hektar lahan pertanian.
Selain itu, PGE juga mengembangkan Geothermal Farming dengan mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi untuk mendukung proses pembibitan dan budidaya tanaman hortikultura agar lebih efisien dan produktif. Pendekatan ini turut meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Di sektor perikanan, PGE mengembangkan Geothermal Fishery melalui pemanas kolam berbasis panas bumi. Teknologi ini mampu mempercepat masa panen hingga 25 persen serta meningkatkan bobot ikan dari rata-rata 200 gram menjadi 330 gram per ekor.
Selanjutnya, melalui Geothermal Food, PGE mendorong pengolahan hasil pascapanen masyarakat agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Inisiatif ini tidak hanya memperpanjang rantai manfaat di sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, program ini menjangkau 4.397 penerima manfaat dengan total penghasilan masyarakat mencapai Rp 3,08 miliar dan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 5,10. Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi pada reduksi emisi sebesar 146,28 ton CO₂e per tahun, serta pengurangan sampah organik hingga 232 ton per tahun.
“Berbagai inisiatif tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas usaha, tetapi juga menekan biaya operasional, khususnya dalam budidaya perikanan dan pengolahan hasil pertanian. Program ini turut mendorong terbentuknya kelompok usaha masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” ungkap I Made Budi.
Saat ini, Area Kamojang mengelola lima unit PLTP dengan total kapasitas 235 megawatt (MW) dari keseluruhan 727 MW kapasitas terpasang. Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari sepanjang tahun tanpa bergantung pada cuaca maupun bahan bakar fosil.
Hingga September 2025, produksi listrik Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh WKP PGE. Produksi ini sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ per tahun, sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.

Inovasi STREAM
Sementara Area Ulubelu memiliki kapasitas terpasang 220 megawatt (MW) dan menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan listrik Provinsi Lampung. Area Ulubelu meraih PROPER Emas ke-4 kalinya melalui dua inovasi andalan, yakni STREAM dan SAI BUMI JEJAMA.
General Manager PGE Area Ulubelu, Edi Sudarmadi, menyampaikan bahwa kunci keberhasilan Area Ulubelu tahun ini terletak pada sebuah inovasi teknologi hijau bernama STREAM (Steam Redistribution and Adjustment Method). Inovasi ini lahir dari semangat untuk mengoptimalkan setiap hembusan uap bumi agar tidak ada energi yang terbuang percuma.
“STREAM bukan sekadar alat, melainkan perwujudan dari inovasi operasional yang andal dan unggul,” ungkap Edi.
Secara teknis, STREAM bekerja dengan menyeimbangkan distribusi uap antara sumur produksi bertekanan tinggi dan rendah melalui penggunaan satellite separator. Sebelum adanya inovasi ini, perbedaan tekanan antarsumur seringkali menghambat efisiensi produksi. Dengan metode redistribusi ini, Area Ulubelu mampu meningkatkan kapasitas pembangkitan hingga 49.522 megawatt hour (MWh) dan menambah pendapatan perusahaan hingga Rp 71 miliar sejak diimplementasikan tahun 2023.
Keunggulan STREAM juga telah diakui lewat berbagai penghargaan, salah satunya yaitu Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) dalam Topik Penurunan Emisi dengan Kategori Platinum yang diselenggarakan oleh PT SUCOFINDO tanggal 16 September 2025.
“Dengan STREAM, kami berhasil menurunkan emisi sebesar lebih dari 28 ribu ton CO2eq, serta menekan emisi gas H2S dan NH3 secara signifikan,” ujarnya.

Kecanggihan teknologi STREAM bukanlah satu-satunya alasan Ulubelu meraih PROPER Emas. Inovasi teknologi ini disempurnakan oleh inovasi sosial bertajuk SAI BUMI JEJAMA (Sustainable Agriculture for Building a Healthy Food System Community Through Joint Action and Mutual Aid). Melalui program ini, Area Ulubelu menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan dan masyarakat dengan mendorong pemanfaatan limbah operasional seperti filler menara pendingin menjadi media pertanian dan perikanan yang produktif.
Integrasi antara teknologi STREAM dan inisiatif SAI BUMI JEJAMA telah menghasilkan dampak sosial yang terukur, dengan nilai SROI mencapai 3,9. Kini, warga di sekitar wilayah operasional Area Ulubelu mampu memanen hingga 8 ton ikan per tahun dan memproduksi 120 ton pupuk secara mandiri berkat pemanfaatan potensi panas bumi secara langsung (direct use).
“Dengan semangat tumbuh bersama masyarakat lokal, Area Ulubelu terus melangkah maju dan berinovasi, membuktikan bahwa energi lokal dari Indonesia dapat menjadi kunci bagi kedaulatan energi dan kelestarian lingkungan,” ujar Edi.







