Jakarta, Petrominer – Industri minyak dan gas (migas) memang kerap menghadapi ketidakpastian. Tahun 2020 telah menyoroti pentingnya kelincahan dan kemampuan beradaptasi lebih dari masa sebelumnya. Apalagi, pandemi Covid-19 membawa banyak disrupsi mulai dari kebutuhan mendadak untuk bekerja jarak jauh hingga jatuhnya harga minyak.
Namun, banyak dari tantangan tahun lalu telah membantu mengungkap area kematangan digital yang rendah. Termasuk ketergantungan industri pada insinyur di lapangan, dan fakta bahwa pekerjaan mereka sering bersifat reaktif, bukan pre-emptive. Hal ini menyebabkan percepatan proyek transformasi digital karena organisasi berupaya mengamankan kelangsungan bisnis dan meningkatkan otomatisasi.
Rashesh Mody,
Senior Vice President, Monitoring and Control Business Unit AVEVA
=============
Seiring pertumbuhan populasi global dan peningkatan standar hidup, kebutuhan energi pun akan terus meningkat.
Menurut laporan terbaru Outlook for Energy dari ExxonMobil, permintaan global akan naik 20 persen pada tahun 2040. Sementara laporan BloombergNEF tahun 2020 memperkirakan permintaan minyak akan mencapai puncaknya pada tahun 2035, dan gas akan terus meningkat hingga setidaknya tahun 2050.
Pada saat yang sama masyarakat menyerukan energi yang lebih bersih, sehingga perusahaan migas harus berupaya memasok energi mereka dengan fokus yang lebih besar pada kinerja lingkungan. Dengan pemikiran ini, banyak yang berfokus pada transisi energi dan pencapaian bersih-nol (net-zero goals).
Beralih ke masa depan energi baru merupakan tantangan. Digitalisasi memiliki peran penting dalam membantu sektor ini melakukan transisi. Solusi seperti pusat operasi jarak jauh diyakini dapat membantu mengoptimalkan efisiensi dan memenuhi target lingkungan, sekaligus memastikan daya saing berkat penurunan biaya dan waktu henti.
Peran ROC
Pusat Operasi Jarak Jauh atau Remote Operations Center (ROC) membantu organisasi untuk membuat keputusan yang lebih baik dengan menyatukan sistem yang berbeda dan memberikan pandangan 360 derajat di seluruh rantai nilai.
Dengan menyatukan teknologi informasi (TI), teknologi operasional (OT), dan teknologi rekayasa (ET) ke dalam sistem Industrial Internet of Things yang terkonvergensi, ROC memungkinkan organisasi untuk menciptakan lingkungan manajemen tunggal yang memberikan visibilitas penuh di seluruh bisnis.
ROC memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (ML), dan komputasi awan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis data yang kemudian diubah menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti sehingga mendorong efisiensi operasional dan kinerja keselamatan. Langkah-langkah operasional seperti hasil, efisiensi, emisi, dan pemanfaatan dapat dihitung dari pabrik hingga tingkat asset. Hal ini memungkinkan perbandingan kinerja yang bermakna di berbagai lokasi dan departemen, dan memastikan indikator kinerja utama (KPI) terpenuhi.
Selain itu, alat pelaporan dan dasbor memungkinkan pengguna mengarahkan staf ke aset prioritas tertinggi. Sementara tinjauan umum aset mengubah pemeliharaan reaktif menjadi prediktif. Ini berkat diagnostik canggih yang memungkinkan pekerja bisa mengantisipasi kesalahan sebelum terjadi melalui penggunaan analitik data besar.
Banyak bisnis migas termasuk hulu, tengah, hilir, dan ritel telah beralih ke ROC. Contohnya ADNOC, salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia dalam hal produksi. Panorama Digital Command Center ADNOC memungkinkan penghematan US$ 60-100 juta melalui operasi yang dioptimalkan. Dengan mengintegrasikan dan memantau lebih dari 10m tag di lebih dari 120 dasbor, ROC memungkinkan perusahaan minyak untuk melihat peluang nilai baru untuk pertama kalinya, bahkan dalam operasi brownfield.
Dunia masih bergantung pada migas, tetapi permintaan pelanggan berubah. Mereka mengharapkan energi yang bersih, terjangkau, dan dapat diandalkan. Untuk menyediakan ini, perusahaan migas terus melakukan efisiensi yang akan menekan biaya, sambil melakukan segala yang bisa untuk menurunkan emisi. Selain itu, mereka harus terus menghadapi ketidakpastian yang biasa dialami di sektor ini, dan juga gangguan baru yang muncul dengan adanya pandemi.
Perusahaan migas yang dapat mengakses informasi dengan tepat dan cepat akan menghadapi masa-masa yang berubah ini dengan lebih baik. Sementara akses visibilitas dan analitik bisnis akan menjadi kunci kesuksesan yang berkelanjutan.
ROC memungkinkan kolaborasi yang lebih baik di antara pemangku kepentingan dan menghubungkan orang, situs, sistem, dan proses. Ini memberdayakan bisnis untuk memanfaatkan aset mereka sebaik mungkin, dan mereka yang melakukannya kemungkinan besar akan memimpin di masa depan energi baru ini.








Tinggalkan Balasan