Jakarta, Petrominer – “Bocor, bocor, bocor…..,” kata itu diucapkan berulang-ulang oleh seorang teknisi di salah satu bagian dari fasilitas pengolahan gas bumi. Dan dengan sigap, sejumlah teknisi lainnya mencari sumber kebocoran. Tidak begitu lama, sumber kebocoran ditemukan dan segera diperbaiki tanpa mengganggu operasional fasilitas tersebut.

Begitulah gambaran tentang kegiatan simulasi penanganan kebocoran yang dilakukan oleh para peserta Program Pemagangan Teknisi Papua (Papuan Technician Apprentice Program) di fasilitas pendidikan dan latihan yang dioperasikan oleh PT Petrotekno di Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Dengan bimbingan dari para pengajar yang sudah berpengalaman di bidangnya, para pemuda-pemudi dari Papua ini disiapkan untuk menjadi teknisi-teknisi handal di kilang LNG Tangguh, Papua.

Saat ini, ada 112 pemuda-pemudi lulusan SMA/SMK dari Papua yang sedang menempuh pendidikan di fasilitas tersebut. Mereka akan mengikuti pendidikan teknisi selama tiga tahun. Dari 112 orang tersebut, terbagi dalam tiga angkatan. Angkatan pertama akan menyelesaikan pendidikannya awal tahun 2019 nanti.

“Program pemagangan teknisi ini dibuat untuk mengembangkan masyarakat asli Papua menjadi tenaga teknisi handal untuk operasi LNG Tangguh. Program ini berjalan selama tiga tahun untuk satu angkatan,” ujar Skill Center Interface Manager BP Indonesia, Dika Chandra Yuana.

Angkatan pertama ada sebanyak 34 orang. Mereka mulai belajar tahun 2016 lalu dan akan segera menyelesaikan pendidikannya awal tahun depan. Angkatan kedua ada 39 orang dan mulai belajar tahun 2017. Sementara angkatan ketiga ada 39 orang dan mulai belajar Maret 2018 lalu.

Dika menjelaskan, program pendidikan teknisi tersebut dibagi dalam tiga fase dalam jangka waktu tiga tahun. Fase pertama berlangsung selama enam bulan. Dalam fase ini, para peserta diberi pengenalan tentang industri hulu migas dan pengetahuan dasar lainnya termasuk kemampuan berbahasa Inggris.

Fase kedua, berlangsung selama 24 bulan. Para peserta mulai mendapat pendidikan dan latihan sebagai teknisi, termasuk soft skills, HSE, kontrol kerja, wawasan kebangsaan, serta pengetahuan tentang kontrak kerja bagi hasil (PSC). Selanjutnya, mereka dibagi sesuai dengan minat dan bakatnya, yakni bidang operasi, mekanik, instrument dan listrik.

Fase ketiga, berlangsung selama enam bulan. Para peserta pendidikan mulai melakukan on the job training (OJT) di lokasi kerja.

“Di fase terakhir ini, mereka mulai disertakan dalam simulasi sistem & peralatan. Para peserta juga melakukan simulasi dengan kondisi operasi yang tidak normal dan penangannya,” jelas Dika.

Menurutnya, para teknisi muda ini akan dinilai berdasarkan standar yang disetujui secara internasional. Penilaian juga dilakukan oleh para penilai yang terakreditasi internasional. Dengan begitu, kompetensi teknisi ini terjamin karena telah melalui sistem penilaian, verifikasi dan validasi yang ketat.

Lebih lanjut, Dika menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan migas asal Inggris itu untuk mempekerjakan warga Papua sebanyak 85 persen dari total pekerja di LNG Tangguh hingga tahun 2029. Ini sesuai dengan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Kilang LNG Tangguh.

“Untuk memenuhi komitmen Amdal, BP harus memenuhi target 85 persen pekerja Papua, yang bekerja di Kilang LNG Tangguh,” paparnya ketika menerima kunjungan sejumlah wartawan di fasilitas Petrotekno, Ciloto, Cianjur, Jum’at (9/11).

Komitmen Amdal yang harus dipenuhi BP selaku Kontraktor Kontra Kerja Sama (KKKS) migas di bawah pengawasan SKK Migas tersebut dilakukan demi mengurangi kendala sosial yang mungkin muncul di lapangan. Program pelatihan tersebut juga dibuat untuk memenuhi sumber daya manusia dan kebutuhan teknisi bagi operasional Kilang LNG Tangguh, yang akan dikembangkan sampai tiga train.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here