Jakarta, Petrominer – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudi Rubiandini, mendesak Pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Dengan begitu, rakyat bisa ikut menikmati dan merasakan dari kondisi penurunan harga minyak mentah dunia.

Menurut Rudi, penyesuaian harga BBM naik ataupun turun harus mengikuti kesepakatan awal yang telah berjalan, yaitu setiap periode dua minggu sekali. Ini dilakukan untuk tidak menghilangkan kepercayaan konsumen dalam hal ini masyarakat pada Pemerintah, yang selama ini dilakukan pada tanggal 1 atau 15 setiap bulannya.

“Apalagi sekarang sudah harusnya turun sejak sebulan lalu, sehingga kewajiban menurunkan harga BBM sudah sangat mendesak,” tuturnya dalam pernyataan tertulis yang diterima Petrominer, Minggu (12/4).

Meskipun begitu, Rudi mengingatkan agar kita semua harus bijak menyikapi nilai jualnya kepada masyarakat. Di satu sisi jangan sampai ada kesan mengeksploitasi masyarakat dengan memberi harga terlalu tinggi jauh dari nilai keekonomian. Juga jangan terlalu rendah sehingga membutuhkan subsidi yang tinggi dari Pemerintah.

Dia menjelaskan, seruan penyesuaian harga BBM disampaikan karena melihat kondisi harga minyak mentah dunia saat ini. Bila menggunakan paramater baru yang sedang terjadi, yaitu nilai tukar US$ senilai Rp 16.000 dan harga minyak US$ 35 per barel, maka harga minyak mentah setara Rp 3.500.

Dari angka itu, urai Rudi, ditambah biaya pengolahan, transportasi, dan PPn maka bisa menjadi Rp. 4.500. Bila ditambah keuntungan Pertamina 10 persen, maka akan menjadi seharga Rp 5.000 per liter. Sementara untuk menjaga kelangsungan tugas Pertamina menjaga Satu Harga sampai ke pelosok Indonesia, ditambah menutupi penurunan pendapatan di sisi hulu, maka masih pantas ditambah lagi sebesar Rp 500 sampai 1000 per liter BBM.

“Artinya harga yang dijual ke masyarakat sebesar Rp 5.500 sampai Rp 6.000 adalah harga yang sudah memasukan segala mancam aspek, sehingga Pertamina mendapat perlindungan dan masyarakat juga membeli dengan harga yang wajar dan masih terjangkau,” tegasnya.

Rudi memberi perbandingan dengan harga BBM di negara Malaysia. Harga BBM Ron 95 (setara Pertamax) dipatok sebesar 1,25 Ringgit atau setara dengan Rp 4.500 per liter. Jadi wajar kalau di Indonesia dijual dengan harga Rp 5.500.

“Jangan sampai anugerah harga minyak dunia turun tidak dirasakan dan dinikmati masyarakat Indonesia, tetapi hanya dinikmati oleh pemerintah dan BUMN nya saja,” katanya mengingatkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here