
Jakarta, Petrominer – PT RMK Energy Tbk (RMKE) membukukan laba bersih Rp 344,4 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M 2026), tumbuh 149,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan volume operasional, terutama setelah perusahaan memperoleh enam klien tambang baru sepanjang tahun ini.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, pendapatan usaha RMKE mencapai Rp 2,4 triliun atau meningkat 118,1% YoY. Sementara itu, laba kotor tercatat Rp 536 miliar, tumbuh 125,6%, dan EBITDA mencapai Rp 508,6 miliar atau meningkat 115,9% YoY.
Demikian pernyataan resmi dari RMKE yang diterima PETROMINER, Senin (2/11).
Dari sisi operasional, volume pengangkutan batubara (hauling) pada kuartal III 2026 mencapai 1,04 juta ton, melonjak 127,6% YoY. Dengan capaian tersebut, volume hauling selama sembilan bulan pertama tahun ini mencapai 2,45 juta ton, tumbuh 237,6%.
Volume pengangkutan batubara menggunakan tongkang (barge) pada kuartal III 2026 meningkat 13,5% YoY menjadi 2,44 juta ton. Pertumbuhan positif ini mempersempit penurunan volume kumulatif sembilan bulan menjadi 3,4% YoY atau sebesar 5,61 juta ton.
Sementara itu, volume penjualan batubara selama 9M 2026 mencapai 2,24 juta ton, tumbuh 109,5% YoY. Kinerja tersebut didukung strategi pembelian batubara dari klien tambang ketika harga pasar meningkat. Pada kuartal III 2026, rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batubara RMKE mencapai Rp 902 ribu per ton, naik 73,2% YoY.
Dari total pendapatan usaha, segmen penjualan batubara menyumbang 65,7%, sedangkan jasa pengangkutan berkontribusi 34,3%. Namun, segmen jasa pengangkutan memberikan kontribusi 70% terhadap laba kotor. Hal ini menunjukkan bisnis logistik memiliki profil margin yang lebih tinggi dibandingkan penjualan batubara.
Kinerja keuangan tersebut juga ditopang arus kas operasional yang semakin kuat. Sepanjang 9M 2026, arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp 422 miliar, meningkat 743,4% YoY. Khusus kuartal III 2026, arus kas operasional tercatat Rp 281,7 miliar, berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan arus kas negatif Rp151,8 miliar.
Dari sisi struktur permodalan, rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) terjaga pada level 0,46 kali pada kuartal III 2026. Angka tersebut masih di bawah batas maksimum perjanjian kredit sebesar 1 kali.
Direktur Keuangan RMKE, Edwin Tedjasukmana, mengatakan pertumbuhan volume operasional didukung penambahan enam klien tambang baru serta semakin jelasnya kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Persetujuan pengajuan RKAB kedua pada kuartal III 2026 turut mendorong peningkatan produksi sejumlah tambang klien.
“Kami melihat tren yang jauh lebih baik pada kuartal III tahun ini, dengan pertumbuhan di seluruh segmen usaha. Kami juga melihat iklim usaha yang akan semakin kondusif di sektor pertambangan seiring kebijakan Pemerintah yang jauh lebih jelas pada sisa waktu tahun ini,” ujarnya.
Ekspansi dan Aksi Korporasi
Selain memperkuat kinerja operasional, RMKE melanjutkan ekspansi kapasitas pengangkutan batubara. Pembangunan fasilitas Train Loading System (TLS) 2 di Gunung Megang telah mencapai 60% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas lima rangkaian kereta per hari, dengan muatan 2.800 ton per kereta. Kehadiran TLS 2 ditargetkan menambah volume pengangkutan sebesar 4-5 juta ton per tahun. Dengan demikian, kapasitas gabungan kedua fasilitas TLS diproyeksikan mencapai 8-10 juta ton per tahun.
RMKE juga telah menyelesaikan aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5. Nilai nominal saham turun dari Rp 100 menjadi Rp 20 per saham, sedangkan jumlah saham beredar meningkat dari 4,375 miliar menjadi 21,875 miliar saham. Langkah ini bertujuan meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas basis investor.
Di bidang keberlanjutan, RMKE menginvestasikan Rp 45,5 miliar untuk pengadaan alat berat berbasis listrik (electric vehicle/EV) serta pembangunan gardu listrik khusus. Investasi tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada peralatan operasional berbahan bakar fosil.








Tinggalkan Balasan