
Cilacap, Petrominer – Sejumlah bank sampah binaan PT Pertamina Patra Niaga di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengumpulkan minyak jelantah untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Kegiatan ini mendapat apresiasi Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, saat mengunjungi Kilang Cilacap, Senin (26/10).
Dalam kesempatan itu, Gibran mengapresiasi keterlibatan kaum ibu dan komunitas setempat dalam mengelola limbah minyak goreng rumah tangga. Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya menciptakan nilai ekonomi.
“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tutur Wapres.
Pengumpulan minyak jelantah juga mendukung upaya Pertamina Patra Niaga memanfaatkannya sebagai salah satu bahan baku bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Manfaat Bank Sampah
Ketua Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap, Rumdani Prapti Sumiwi, mengatakan kegiatan pengumpulan minyak jelantah bermula dari upaya mengatasi persoalan lingkungan. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga mengenai nilai jual limbah tersebut, kelompoknya semakin aktif mengajak masyarakat untuk mengumpulkannya.
“Kami awalnya tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya. Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak,” ujar Rumdani.
Bank Sampah Cahaya Asri menerima minyak jelantah dari warga yang kemudian dapat ditukar dengan uang atau kebutuhan pangan, seperti telur. Kelompok ini mengumpulkan sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan untuk disalurkan melalui mitra pengumpul.
Manfaat serupa dirasakan Bank Sampah Abhipraya di Kelurahan Kutawaru. Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, mengatakan kelompoknya telah menjalankan pemilahan sampah sejak 2019 sebelum mengembangkan pengumpulan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.
“Dulu minyak jelantah hanya dibuang tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga karena anggota kami telah mendapatkan edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang sangat membantu perkembangan bank sampah,” kata Herry.
Sementara itu, Bank Sampah Beo Asri telah mengelola sampah rumah tangga sejak 2012. Direktur Bank Sampah Beo Asri, Sri Widowati, menjelaskan kelompoknya mulai mengumpulkan minyak jelantah pada 2023 untuk meningkatkan pemanfaatan limbah yang sebelumnya belum dikelola secara optimal.
Pertamina Patra Niaga memberikan pembinaan, pelatihan, serta bantuan sarana dan prasarana untuk memperkuat kapasitas kelompok tersebut. Selain mengumpulkan minyak jelantah, Bank Sampah Beo Asri mengolah sampah plastik dan memanfaatkan sisa palet menjadi berbagai produk, seperti kursi, meja, dan rak.
“Kami sangat berterima kasih karena Pertamina Patra Niaga tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga perhatian dan pembinaan kepada kami. Harapan kami, dukungan ini dapat terus berlanjut sehingga bank sampah dapat semakin berkembang dan meningkatkan kesejahteraan anggota serta warga di lingkungan kami,” ujar Sri.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan keberhasilan pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan berkelanjutan, serta akses penyaluran hasil pengumpulan.
“Pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan yang berkelanjutan, serta terbukanya akses penyaluran hasil pengumpulan. Melalui kolaborasi tersebut, limbah rumah tangga dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan memiliki nilai guna yang lebih besar,” ujar Kitty.








Tinggalkan Balasan