, , ,

Pendapatan United Tractors Turun 10% Jadi Rp 90,3 Triliun

Posted by

–

Jakarta, Petrominer – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih Rp 90,3 triliun hingga triwulan III 2026, turun 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 100,5 triliun. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya kinerja segmen alat berat serta pertambangan batubara termal dan metalurgi, di tengah penurunan penjualan emas PT Agincourt Resources.

Dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (26/10), Corporate Secretary UT, Ari Setiyawan, mengatakan penurunan kinerja tersebut antara lain dipengaruhi alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara nasional 2026 yang lebih rendah. Dampaknya sebagian diimbangi kenaikan pendapatan segmen kontraktor penambangan, terutama karena penguatan kurs dolar Amerika Serikat.

Laba bersih UT di luar pos nonberulang (non-recurring items) turun 31% menjadi Rp 7,9 triliun. Penurunan terutama disebabkan penjualan emas PT Agincourt Resources yang lebih rendah serta melemahnya pendapatan akibat penyesuaian alokasi RKAB batu bara nasional.

Penjualan emas dari Tambang Emas Martabe sebelumnya terdampak penghentian sementara operasional tambang. Namun, tambang tersebut telah kembali beroperasi pada periode pelaporan triwulan II 2026.

Per 30 September 2026, UT mencatat utang bersih Rp 4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2%. Posisi ini berbalik dari kas bersih Rp 7,7 triliun pada 31 Desember 2025, terutama akibat akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

Penjualan Alat Berat dan Batubara Melemah

Segmen alat berat mencatat penjualan alat berat Komatsu sebanyak 3.026 unit, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terutama terjadi pada penjualan alat berat berukuran besar (big machine) untuk sektor pertambangan, yang merosot 48% menjadi 481 unit akibat lebih rendahnya alokasi RKAB batubara nasional.

Di tengah penurunan tersebut, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat naik 2% menjadi Rp 8,5 triliun dari Rp 8,3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen alat berat turun 19% menjadi Rp 23,6 triliun.

Sementara itu, segmen kontraktor penambangan yang dioperasikan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya, PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), mencatat kenaikan pendapatan 11% menjadi Rp 44,5 triliun. Kenaikan tersebut terutama didorong penguatan kurs dolar AS.

Namun, aktivitas operasional kedua perusahaan itu mengalami penurunan. Volume pemindahan tanah turun 7% menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm), sedangkan produksi batu bara untuk klien turun 3% menjadi 106 juta ton, dengan rata-rata rasio pengupasan lapisan tanah (stripping ratio) 7,2 kali.

Penurunan volume tersebut mengikuti penyesuaian target produksi para klien berdasarkan RKAB yang telah disetujui. Di tengah kondisi itu, PAMA dan KPP Mining memperluas bisnis ke sektor mineral nonbatu bara, khususnya emas dan nikel, sebagai bagian dari strategi membangun portofolio usaha dan menopang pertumbuhan jangka panjang.

Pada segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources), volume penjualan batu bara tercatat 7,1 juta ton hingga triwulan III 2026. Angka tersebut turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan mencakup 2,1 juta ton batu bara metalurgi.

Segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mencatat penurunan pendapatan 53% menjadi Rp 4,9 triliun hingga triwulan III 2026. Penurunan terutama dipicu merosotnya penjualan emas sebesar 70%.

Bisnis pertambangan emas UT dijalankan PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya. Kedua perusahaan tersebut mencatatkan total penjualan setara emas sebanyak 54 ribu ons, turun dibandingkan 178 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.

Di sektor nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebanyak 1,157 juta wet metric ton (wmt). Volume tersebut terdiri atas 390 ribu wmt saprolit dan 767 ribu wmt limonit.

Lanjutkan Buyback Saham

Di bidang korporasi, UT menyelesaikan tahap keempat program pembelian kembali saham (buyback) pada 30 September 2026. Program yang berlangsung sejak 1 Juli 2026 itu mencakup pembelian kembali 58 juta lembar saham.

Selanjutnya, UT mengumumkan tahap kelima buyback dengan nilai maksimal Rp 2 triliun untuk periode 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Secara kumulatif, UT telah membeli kembali 297 juta saham dengan nilai sekitar Rp 8,5 triliun. Pembelian tersebut dilakukan dalam periode Juli 2022 hingga Januari 2023 serta Oktober 2025 hingga September 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *