, ,

Tajak Lima Sumur Pascabanjir, PEP Rantau Pulihkan Produksi

Posted by

–

Aceh Tamiang, Petrominer – Pertamina EP (PEP) Rantau Field berhasil memulihkan produksi minyak ke level stabil sekitar 1.700 barel per hari (BOPD), empat bulan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025. Di tengah pemulihan, perusahaan juga telah melakukan tajak lima sumur baru untuk mendukung keberlanjutan produksi dan menemukan cadangan migas.

Field Manager PEP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan pemulihan dilakukan bertahap, mulai dari penanganan kondisi darurat hingga pengaktifan kembali fasilitas produksi. Upaya tersebut memungkinkan operasi kembali berjalan, meski sejumlah fasilitas mengalami kerusakan akibat banjir.

“Di tengah pemulihan pascabanjir, kami tetap melakukan pengeboran untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi. Tajak sumur baru ini penting bagi penyediaan energi nasional,” ujar Tomi, Jum’at (9/10).

Pengeboran RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 HP, masing-masing dengan kedalaman akhir 1.145 meter measured depth (MMD) dan 1.037 MMD. Sementara itu, RNT DZ-11 dibor menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD. Dua sumur lainnya masih dalam proses pengeboran.

Menurut Tomi, keberhasilan pengeboran tersebut menjadi bagian dari strategi PEP Rantau Field, yang berada di bawah Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, untuk menjaga produksi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Seluruh kegiatan operasi tetap mengacu pada prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) serta standar keselamatan kerja.

Inovasi

Pemulihan dilakukan melalui empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability. Tahap awal difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makanan, air bersih, kesehatan, dan listrik. Setelah kondisi terkendali, tim mulai mengaktifkan kembali fasilitas dan sumur produksi.

Salah satu tantangan terbesar adalah memulihkan pembangkit listrik yang menjadi penopang utama operasi. Banjir merendam Water Treatment Plant (WTP), mengganggu pasokan air bersih, dan menghentikan produksi minyak. Kerusakan berat juga terjadi pada High Pressure Compressor Station (HPCS), yang sebelumnya menjadi sumber utama pasokan gas untuk pembangkit listrik.

Alih-alih mengaktifkan kembali HPCS, tim melakukan evaluasi teknis dan memodifikasi fasilitas SP-5 agar dapat mengambil alih fungsinya. Pasokan gas untuk pembangkit kemudian didukung dari SP-5 dan SP-1.

“Ketika listrik sudah teratasi, produksi yang sebelumnya nol barel perlahan mulai naik. Salah satu pelajaran dari kejadian ini adalah pentingnya penyederhanaan fasilitas dan mencari solusi yang lebih efektif,” kata Tomi.

Produksi minyak bahkan mencapai 2.000 BOPD pada Mei dan Agustus 2026, melampaui tingkat sebelum banjir. Saat ini, produksi stabil di kisaran 1.700 BOPD.

Tomi menyebut pemulihan dalam waktu sekitar empat bulan lebih cepat dari perkiraan awal yang mencapai satu hingga tiga tahun. Capaian itu didukung bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina, termasuk Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, dan Ramba.

Banjir besar pada akhir November 2025 diketahui menggenangi wilayah kerja dengan ketinggian air sekitar 4–4,5 meter dan meninggalkan endapan lumpur setebal 30–80 sentimeter. Bencana itu berdampak pada fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *