, , ,

IEE Series – Energy Week 2026, Rancang Infrastruktur Energi di Tengah Perkembangan Teknologi

Posted by

Jakarta, Petrominer – Perkembangan teknologi digital terus mendorong perubahan pada infrastruktur yang menopangnya. Pertumbuhan komputasi, cloud, dan kecerdasan buatan telah meningkatkan kebutuhan terhadap data center dan konektivitas, sementara elektrifikasi dan berkembangnya energi terbarukan mendorong sistem kelistrikan dan penyimpanan energi untuk menjadi semakin fleksibel. Perubahan tersebut menuntut infrastruktur yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat berkembang mengikuti teknologi.

Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam rangkaian diskusi di ajang Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026, yang mempertemukan Electric & Power Indonesia, Data Center Asia-Indonesia, dan The Battery Show Indonesia. Melalui berbagai forum dan pembahasan di ketiga sektor tersebut, Energy Week melihat bagaimana kesiapan infrastruktur menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi industri.

Salah satu contoh perubahan kebutuhan tersebut terlihat pada industri data center, yang berkembang seiring meningkatnya kebutuhan komputasi dan konektivitas. Pada forum Data Center Asia–Indonesia, perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan Indonesia saat ini memiliki 246 data center yang tersebar di 134 lokasi.

Tandi Suriani.

“Data center hari ini harus dibangun dengan mempertimbangkan pertumbuhan di masa depan. Solusinya harus scalable dan modular, sehingga ketika data center berkembang, infrastrukturnya tidak harus dibangun ulang dari nol. Dengan kebutuhan konektivitas yang terus meningkat, termasuk peralihan dari kecepatan 400 menuju 800 GBPS, maka fiber backbone perlu dirancang agar tetap dapat dikembangkan tanpa harus diganti secara menyeluruh,” papar Tandi.

Dengan demikian, kesiapan menghadapi pertumbuhan teknologi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kapasitas yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan infrastruktur untuk berkembang secara efisien sejak masih dirancang sedari awal.

Jaga Keandalan

Kebutuhan terhadap infrastruktur yang dapat berkembang tersebut pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan dan keandalan energi. Semakin banyak aktivitas industri dan teknologi bergantung pada listrik, semakin penting pula sistem kelistrikan mampu menyediakan pasokan secara kontinu dan stabil.

Presiden Direktur Wirawan Corporation, Michael Hardinata, mengatakan perkembangan teknologi telah membuat energi menjadi kebutuhan yang semakin fundamental dalam berbagai aktivitas. Internet, televisi, kendaraan listrik, dan berbagai teknologi lain, menurutnya, seluruhnya bergantung pada ketersediaan energi. Seiring teknologi semakin berkembang dan penggunaannya semakin meluas, ia melihat kebutuhan energi Indonesia juga akan terus meningkat dan industrinya tidak akan pernah mati.

Kebutuhan akan kontinuitas tersebut juga dirasakan oleh industri manufaktur. Budi Tedja dari Delta Prima Makmur mengatakan pasokan energi untuk produk mereka yang digunakan dalam proses manufaktur harus tetap stabil untuk mencegah gangguan terhadap operasional.

“Infrastruktur yang dibutuhkan sekarang adalah yang bisa mengolah energi secara kontinyu, memanfaatkan energi alternatif, sehingga ketergantungan terhadap energi konvensional dapat dikurangi, dan downtime dapat ditekan. Dengan begitu proses bisa terus berjalan,” ujar Budi.

Jika kebutuhan industri semakin dinamis, sistem energi pun dituntut tidak hanya andal, tetapi juga semakin fleksibel dalam mengelola berbagai sumber energi.

Siklus Hidup Baterai

Salah satu bagian dari sistem energi yang semakin penting dalam menghadapi kebutuhan tersebut adalah teknologi penyimpanan energi. Namun, perkembangan industri baterai juga membawa tantangan baru ketika baterai memasuki tahap akhir penggunaannya.

Indonesia saat ini belum memiliki lembaga khusus yang dapat menentukan siklus pakai, tingkat penuaan, maupun sisa kualitas baterai secara komprehensif. Mekanisme pengelolaan dan daur ulang baterai setelah mencapai akhir masa pakainya juga masih perlu diperkuat.

Prof. Dr. rer. nat Evvy Kartini.

Tantangan tersebut menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan. Pengembangan ekosistem baterai perlu mempertimbangkan pengelolaan baterai setelah masa penggunaan pertamanya berakhir, karena diperkirakan limbah baterai kendaraan listrik bisa mencapai 57 ribu ton pada 2030 dan 322 ribu ton pada 2035. Kondisi tersebut membuka peluang untuk melihat baterai bekas bukan hanya sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai melalui alih fungsi (repurposing) dan daur ulang (recycling)

Hal tersebut juga menjadi perhatian dalam pengembangan sistem energi terbarukan. Energy Solution Director of Huawei, Simon Wan, mengatakan pertumbuhan energi terbarukan turut mengubah cara sistem energi dikelola. Energi terbarukan perlu dapat digunakan secara lokal, dikelola secara cerdas, dan diintegrasikan dengan jaringan listrik agar dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

“Sistem tenaga menjadi semakin lokal, fleksibel, dan kompleks. Kita membutuhkan sistem energi yang lebih cerdas dan lebih dekat dengan pengguna, sekaligus mampu mengelola berbagai sumber daya tersebut secara bersama-sama,” ujar Simon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *