
Saumlaki, Kepulauan Tanibar, Petrominer – Pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi gas dari lapangan Abadi, blok Masela, dialokasikan untuk kebutuhan domestik, termasuk industri pupuk, kelistrikan, dan hilirisasi. Sementara porsi ekspor dibatasi maksimal 40 persen. Alokasi tersebut ditetapkan sebagai upaya menggerakkan kebutuhan energi dan industri di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahdalia, menyampaikan kebijakan tersebut dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum pelaksanaan peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7).
“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor. Di mana sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi daripada PT Pupuk yang berencana akan membangun industri hilirisasi di sini,” ujar Bahlil.
Selain untuk mendukung industri pupuk, sebagian gas Masela juga akan dialokasikan kepada PLN, PGN, dan sejumlah perusahaan swasta lainnya. Pemanfaatan gas tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” lanjutnya.
Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi gas domestik telah masuk dalam rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (PoD) untuk memenuhi peningkatan kebutuhan gas bumi, terutama sektor industri, pupuk, dan pembangkit listrik.
Lapangan gas Abadi blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang berlokasi sekitar 180 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut 400-800 meter. Kontrak Kerja Sama (PSC) Wilayah Kerja Masela berlaku sejak tahun 1998 hingga 2055. Lapangan ini direncanakan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari.
Pengembangan blok Masela mencakup sistem pengeboran dan produksi bawah laut, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas ekspor sepanjang sekitar 175 kilometer, serta kilang LNG di darat. Proyek ini juga direncanakan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam produksi LNG untuk mendukung pengurangan emisi karbon dan upaya pemerintah menjalankan transisi energi.
“Dengan komposisi alokasi yang telah disiapkan, produksi gas Blok Masela diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sejumlah sektor di dalam negeri tanpa menutup peluang ekspor. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kesiapan proyek, realisasi fasilitas pengolahan, dan penyerapan gas oleh calon pengguna domestik,” ujar Bahlil.








Tinggalkan Balasan