, , ,

PLTS Terapung, Solusi Atasi Keterbatasan Lahan Darat

Posted by

Denpasar, Petrominer – Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung menjadi salah satu solusi penting untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia. Berkat teknologi ini, terbuka peluang pengembangan PLTS di waduk, danau, serta kawasan perairan dekat pantai. 

Dengan begitu, kebutuhan lahan darat yang sering menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan PLTS skala besar bisa ditekan. Demikian hasil kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), yang dipaparkan dalam gelaran hari kedua Indonesia Solar Summit (ISS) 2026, Rabu (15/7).

“Perhitungan keekonomian ini menggunakan indikator equity internal rate of return (EIRR) yang dibandingkan Weighted Average Cost of Capital (WACC), serta mengacu pada asumsi harga listrik berdasarkan Perpres 112/2022,” jelas Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa,.

Fabby menegaskan, pengembangan PLTS terapung penting untuk mendukung target besar Indonesia dalam mempercepat energi surya, termasuk program PLTS 100 GW. Jika dirancang dengan baik, PLTS terapung dapat menjadi bagian dari solusi untuk menyediakan listrik bersih bagi kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, sistem kelistrikan daerah, hingga pengganti pembangkit fosil yang memasuki masa pensiun.

“Untuk itu, IESR mendorong integrasi lokasi potensial PLTS terapung dengan dokumen perencanaan energi, tata ruang darat, dan tata ruang laut,” paparnya.

Untuk PLTS terapung di waduk atau danau, aspek izin pemanfaatan sumber daya air perlu disederhanakan. Sementara untuk PLTS terapung nearshore, proses perizinan ruang laut dan navigasi laut perlu dibuat lebih jelas agar tidak menghambat investasi.

IESR juga mendorong penggunaan mekanisme reverse auction atau lelang terbalik yang kompetitif berbasis harga untuk mempercepat pengembangan PLTS terapung. Mekanisme ini bersyarat, di mana pemerintah terlebih dahulu menyiapkan kajian kelayakan awal sehingga pengembang dapat berkompetisi pada aspek harga, teknologi, dan kemampuan implementasi. 

“Mekanisme ini dapat membantu menghasilkan tarif yang lebih kompetitif dan mempercepat proyek-proyek yang sudah siap dikembangkan,” tegas Fabby.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *