
Denpasar, Petrominer – Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung menjadi salah satu solusi penting untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia. Berkat teknologi ini, terbuka peluang pengembangan PLTS di waduk, danau, serta kawasan perairan dekat pantai.
Dengan begitu, kebutuhan lahan darat yang sering menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan PLTS skala besar bisa ditekan. Demikian hasil kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), yang dipaparkan dalam gelaran hari kedua Indonesia Solar Summit (ISS) 2026, Rabu (15/7).
Berdasarkan pemodelan dalam kajian bertitel “The Technological and Economic Potential of Developing Floating Solar Power Plants in the Indonesian Archipelago,” Indonesia memiliki potensi PLTS terapung yang layak secara finansial sebesar 77,8 GW di 179 lokasi. Potensi ini terdiri dari 42,5 GW PLTS terapung inland di 143 lokasi dan 35,3 GW PLTS terapung nearshore di 36 lokasi.
“Perhitungan keekonomian ini menggunakan indikator equity internal rate of return (EIRR) yang dibandingkan Weighted Average Cost of Capital (WACC), serta mengacu pada asumsi harga listrik berdasarkan Perpres 112/2022,” jelas Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa,.
Fabby menegaskan, pengembangan PLTS terapung penting untuk mendukung target besar Indonesia dalam mempercepat energi surya, termasuk program PLTS 100 GW. Jika dirancang dengan baik, PLTS terapung dapat menjadi bagian dari solusi untuk menyediakan listrik bersih bagi kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, sistem kelistrikan daerah, hingga pengganti pembangkit fosil yang memasuki masa pensiun.
“Untuk itu, IESR mendorong integrasi lokasi potensial PLTS terapung dengan dokumen perencanaan energi, tata ruang darat, dan tata ruang laut,” paparnya.
Untuk PLTS terapung di waduk atau danau, aspek izin pemanfaatan sumber daya air perlu disederhanakan. Sementara untuk PLTS terapung nearshore, proses perizinan ruang laut dan navigasi laut perlu dibuat lebih jelas agar tidak menghambat investasi.
IESR juga mendorong penggunaan mekanisme reverse auction atau lelang terbalik yang kompetitif berbasis harga untuk mempercepat pengembangan PLTS terapung. Mekanisme ini bersyarat, di mana pemerintah terlebih dahulu menyiapkan kajian kelayakan awal sehingga pengembang dapat berkompetisi pada aspek harga, teknologi, dan kemampuan implementasi.
“Mekanisme ini dapat membantu menghasilkan tarif yang lebih kompetitif dan mempercepat proyek-proyek yang sudah siap dikembangkan,” tegas Fabby.
IESR menyelenggarakan Indonesia Solar Summit setiap tahun sejak 2022. Edisi kelima tahun ini terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dewan Energi Nasional serta Pemerintah Provinsi Bali, dan didukung oleh Climate Group RE100, iForte Energy, dan Greenvolt Power Indonesia.








Tinggalkan Balasan