, ,

Didukung KSP, PGN Kebut Pengembangan CBM di Tanjung Enim

Posted by

Pagardewa, Petrominer – Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, menyatakan percepatan proyek pengembangan pemanfaatan Coalbed Methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, telah menjadi perhatian bersama karena memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional. Apalagi, potensinya diperkirakan mencapai 9,7 TCF OGIP (Original Gas in Place), dengan estimasi nilai potensi sekitar US$ 15,4 miliar.

Kantor Staf Presiden (KSP) mendorong penyelesaian hambatan lintas sektor agar pengembangan gas CBM ini dapat segera masuk tahap komersialisasi, di mana penyelesaian administrasi tetap harus mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Demikian disampaikan Dudung saat mengunjungi Stasiun Penerima Gas (SPG) dan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pagardewa di Muara Enim, Sumatera Selatan, Jum’at (3/7).

Pemanfaatan gas berbasis batubara ini merupakan salah satu inisiatif PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) untuk menambah pasokan gas domestik guna mendukung penguatan ketahanan energi nasional. Bagi PGN, pengembangan CBM di Tanjung Enim berpotensi membuka ruang monetisasi sumber daya gas non-konvensional domestik yang selama ini belum optimal. 

Inisiatif ini juga dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi pasokan gas domestik untuk mendukung kebutuhan industri dan pembangkit. Berdasarkan data Ditjen, potensi CBM di Tanjung Enim diperkirakan mencapai sekitar 9,7 TCF OGIP, dengan estimasi nilai potensi gas sekitar US$ 15,4 miliar.

Kesiapan Infratruktur

Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari KSP terhadap upaya PGN dalam rangka penguatan gas bumi domestik dan mengurangi impor energi nasional. PGN menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas yang ada, dengan target penyaluran yang diproyeksikan tumbuh secara bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai 25 MMSCFD. 

“Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point. Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methanebiomethane maupun sumber lainnya akan dikumpulkan dan kemudian dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” jelas Arief.

Integrasi infrastruktur berbasis pipeline dan non-pipeline menjadi kunci utama efektivitas penyerapan energi ini. Dengan rekam jejak yang solid serta portofolio infrastruktur gas bumi yang luas sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN siap menjalankan peran strategisnya sebagai jembatan utama antara titik sumber pasokan gas dengan masyarakat.

Selain kesiapan operasional, PGN menggarisbawahi bahwa percepatan proyek strategis ini membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholder. Oleh karena itu, PGN menilai dukungan dari KSP memegang peranan penting dalam menjembatani komunikasi antar pemangku kepentingan agar koordinasi dapat berjalan lebih taktis dan efektif, serta selaras dengan peran masing-masing pihak serta tindak lanjut yang jelas di setiap lini. 

“PGN menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus mengawal kebijakan Pemerintah. Dari wilayah Muara Enim dan Pagardewa, PGN bertekad menghadirkan solusi energi domestik yang bersih, andal, dan memberikan multiplier effect yang luas bagi masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian daerah,” tutup Arief.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *