
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat kinerja cemerlang melalui keberhasilannya membukukan cost optimization US$ 635 juta dalam program Optimus 2025. Keberhasilan ini sekaligus memperkuat komitmen inovasi di lingkup Subholding Upstream Pertamina untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tahun 2026.
Menurut Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari komitmen kuat dan implementasi program yang konsisten di seluruh lini organisasi. Dengan tantangan yang semakin kompleks dan ekspektasi tinggi terhadap kontribusi sektor hulu migas dalam menjaga ketahanan energi nasional, PHE optimistis dapat terus menghadirkan kinerja terbaik.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, kita tetap mampu menghadirkan kinerja unggul melalui disiplin eksekusi dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujar Wisnu dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Jum’at (15/5).
Di tengah dinamika operasional, termasuk kebutuhan peningkatan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) dan asset integrity management, PHE berhasil mencatat realisasi cost optimization di tahun 2025 sebesar US$ 635 juta dari target US$ 250 juta. Capaian ini juga berkontribusi sekitar 57 persen terhadap total cost optimization di lingkungan Pertamina, sekaligus mengantarkan PHE meraih predikat Grand Champion Optimus 2025.
Program Optimus (Optimization Upstream) yang dijalankan di lingkup Subholding Upstream Pertamina telah memasuki tahun ke-6. Melalui program ini, PHE mendorong agar budaya inovasi dan efisiensi dapat diinternalisasi secara menyeluruh, tidak hanya pada tim tertentu, tetapi di seluruh organisasi.
“Optimus harus menjadi motor penggerak lahirnya terobosan-terobosan baru. Ini bukan sekadar program, tetapi bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi bangsa dan negara,” ujar Wisnu.
Memasuki tahun 2026, PHE dihadapkan pada tantangan yang lebih besar. Ruang optimalisasi yang semakin terbatas dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) menuntut terobosan baru dalam efisiensi dan penciptaan nilai. Selain itu, kondisi lapangan migas yang mayoritas telah mature dan mengalami penurunan produksi (declining) turut meningkatkan tantangan operasional.
Sementara Komisaris PHE, Nanang Untung, menegaskan bahwa strategi perusahaan akan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni revenue growth, efisiensi, dan cost avoidance. Strategi ini diambil guna menjaga kinerja di tengah keterbatasan tersebut.
“Lapangan yang kita kelola sebagian besar sudah mature dan declining. Ini membuat tantangan semakin besar, namun sekaligus membuka peluang untuk melakukan optimalisasi yang lebih kreatif dan terukur,” ungkap Nanang.
Di sisi lain, menurutnya, dinamika eksternal seperti potensi kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kebutuhan energi nasional menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kinerja perusahaan. Namun, peluang tersebut hanya dapat dioptimalkan dengan semangat inovasi dan keberanian untuk berpikir di luar kebiasaan.
“Semangat untuk mencari peluang menjadi kunci. Jika seluruh perwira memiliki dorongan yang sama, maka peluang akan muncul dan bisa direalisasikan,” tegas Nanang.








