, , , , ,

Indonesia Peringkat Kedua Emisi Metana Energi Fosil

Posted by

Jakarta, Petrominer – Sepanjang tahun 2025, total emisi metana dari operasi bahan bakar fosil di Indonesia mencapai lebih dari 3 juta ton. Sumbangan terbesar dari tambang batubara dan sisanya dari sektor minyak dan gas bumi (migas). Dengan total emisi metana fosil ini, Indonesia menempati posisi kedua terbesar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara dan perusahaan telah meningkatkan ambisi mereka terkait metana, sehingga isu ini menjadi prioritas utama dalam agenda kebijakan. Namun, penetapan target pengurangan hanyalah langkah awal, dan penting untuk memastikan target tersebut didukung oleh kebijakan, rencana implementasi, dan tindakan nyata,” ungkap Kepala Ekonom Energi IEA, Tim Gould, dalam laporan IEA tersebut yang diperoleh PETROMINER, Selasa (5/5).

China menjadi penyumbang emisi metana energi fosil terbesar di dunia dengan emisi mencapai 25 juta ton, sementara Indonesia menempati peringkat delapan. Meski demikian, di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, emisi metana bahan bakar fosil Indonesia tercatat terbesar kedua, di mana India di peringkat pertama dengan emisi hampir menyentuh 4 juta ton.

Tambang batubara menjadi penyumbang emisi metana terbesar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dengan porsi mencapai lebih dari 60 persen dari total emisi metana 13 juta ton pada tahun 2025.

Dody Setiawan, Senior Analis Iklim dan Energi untuk Indonesia EMBER menuturkan, emisi metana tambang batubara (Coal Mine Methane/CMM) yang dilaporkan Pemerintah Indonesia hanya mencakup sebagian kecil. Namun kenyataannya, IEA menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil emisi metana tambang batubara terbesar ketiga, setelah China dan Rusia. 

“Berdasarkan pelacakan, intensitas metana Indonesia 12,5 kali lebih tinggi dibandingkan faktor emisi yang saat ini digunakan oleh pemerintah. Untuk meningkatkan akurasi inventaris emisi dan mendorong akuntabilitas di tingkat perusahaan, Indonesia harus mulai mengukur emisi tambang batubara dan mengembangkan faktor emisi spesifik wilayah,” ujar Dody.

Pemanfaatan Teknologi

Indonesia, bersama Nigeria, China, dan beberapa negara lain, sebenarnya telah memiliki regulasi emisi metana dan gas suar bakar (flaring). Namun, implementasinya masih terhambat oleh terbatasnya akses pada teknologi verifikasi, minimnya pelatihan untuk mendeteksi emisi metana, dan sistem pengumpulan data perusahaan yang sudah usang.

Di tambang batubara, emisi metana dapat dikurangi dengan menangkap dan menggunakannya, atau dengan menghilangkannya melalui pembakaran atau teknologi oksidasi. Sementara di sektor migas, penambahan teknologi pengolahan atau kompresi (vapour-recovery units) untuk menangkap aliran metana bertekanan rendah yang terbuang.

Laporan IEA juga mengungkapkan, lebih dari 35 juta ton emisi metana bisa dihindari tanpa biaya tambahan, dengan peluang terbesar di sektor migas. Hal ini lantaran biaya pengurangan emisi lebih murah dibandingkan nilai pasar gas suar (flare gas) yang berhasil ditangkap dan dijual atau digunakan sendiri. Nilai ekonomi tersebut menjadi lebih tinggi menyusul lonjakan harga bahan bakar fosil tahun ini.

“Ini bukan hanya masalah iklim, ada juga manfaat besar bagi keamanan energi yang dapat diperoleh dari mengatasi emisi metana dan pembakaran gas berlebih, terutama pada saat dunia sangat membutuhkan pasokan tambahan di tengah krisis saat ini,” tegas Tim Gould.