
Jakarta, Petrominer – Sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih menjadi magnet bagi investor internasional. Hal ini terungkap dalam paparan rencana ekspansi yang agresif dari Jadestone Energy.
Country Manager Jadestone Energy Indinesia, Andi Iwan Uzamah mengungkapkan bahwa Jadestone saat ini aktif membidik peluang akuisisi dan kemitraan, khususnya pada aset-aset yang sudah berada pada tahap pengembangan maupun produksi.
“Fokus kami adalah aset yang sudah di tahap development atau produksi agar dapat segera dioptimalkan. Kami juga membuka peluang kerja sama strategis, baik melalui kemitraan maupun akuisisi, termasuk untuk aset-aset yang belum tergarap optimal (stranded assets),” ungkap Andi usai mendampingi CEO Jadestrone Energy, T. Mitch Little, bertemu dengan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, Kamis (30/4).
Rencana ekspansif Jadestone ini bisa dikatakan sebagai validasi penting bagi industri hulu migas Indonesia di tengah ketatnya persaingan investasi energi global dan derasnya arus transisi energi. Ini juga menjadi bukti bahwa hulu migas nasional masih menjadi magnet bagi investor internasional.
Bagi industri hulu migas, menurut Kepala SKK Migas, komitmen Jadestone ini bukanlah sekadar ekspansi korporasi, melainkan indikator konkret bahwa iklim investasi hulu migas Indonesia tetap kompetitif dan menjanjikan. Langkah ekspansi yang dilakukan Jadestone Energy menjadi sinyal kuat atas daya saing Indonesia di mata dunia.
“Indonesia ini masih good untuk berinvestasi di hulu migas,” tegas Djoko.
Kontribusi Jadestone yang mencakup produksi gas, kondensat, hingga LPG juga memperkuat peran strategisnya dalam mendukung ketahanan energi nasional.Dengan pendekatan ekspansi yang terbuka mulai dari wilayah barat hingga timur Indonesia, serta mencakup aset onshore dan offshore Jadestone menunjukkan komitmen jangka panjang untuk tumbuh bersama industri migas nasional.
Saat ini, Jadestone menggarap wilayah kerja Lemang di Jambi, dengan rata-rata produksi 6.400 BOEPD. Selain di Indonesia, perusahaan migas ini juga memiliki aset berproduksi di Malaysia, Vietnam dan Australia.







