
PALI, Petrominer – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) kembali menunjukkan perannya dalam mendukung keberhasilan operasi dan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Capaian ini diakui berkat dukungan teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan kolaborasi berbagai pihak.
Kali ini, menurut Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, ditunjukkan dalam program pengeboran sumur BNG-079 di struktur Benuang, lapangan Adera, yang berlokasi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena faktor kecepatannya.
“Sumur tersebut dibor menggunakan Rig PDSI #41.3/N110UE milik Pertamina Drilling dan berhasil mencapai kedalaman 2.559 meter measured depth (mMD) hanya dalam waktu 38 hari. Capaian ini dinilai relatif cepat, sekaligus menghasilkan produksi awal yang signifikan,” ungkap Avep dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (26/4).
Dia menjelaskan, keberhasilan pengeboran sumur BNG-079 menjadi refleksi dari kesiapan teknologi, kapabilitas rig, serta kompetensi SDM. Pertamina Drilling pun terus berinovasi agar operasi berjalan lebih cepat, efisien, dan tetap mengedepankan keselamatan kerja.
“Capaian ini mencerminkan kesiapan teknologi dan sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan operasi migas yang semakin kompleks,” ujar Avep.
Menurutnya, penggunaan teknologi walking rig menjadi salah satu faktor utama yang mendorong percepatan kinerja pengeboran. Teknologi ini memungkinkan perpindahan rig lebih cepat dan aman, sehingga dapat memangkas waktu rig move secara signifikan dan berdampak langsung pada percepatan keseluruhan program pengeboran.
Di balik keberhasilan teknis tersebut, terdapat peran para pekerja yang menjalankan operasi dengan kompetensi tinggi dan disiplin. Sinergi juga terjalin dengan masyarakat di wilayah PALI dan Prabumulih, serta para pemangku kepentingan lainnya, sehingga kegiatan operasional dapat berjalan kondusif.
Aspek keselamatan kerja turut menjadi perhatian utama. Pengeboran sumur BNG-079 tercatat mencapai 52.320 jam kerja aman (safe man hours), yang menunjukkan penerapan prinsip HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) berjalan dengan baik.







