, ,

Perkuat Komitmen Strategi Net-Zero, Medco E&P Gabung OGMP 2.0

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Medco E&P Indonesia (Medco E&P) resmi bergabung dengan Oil & Gas Methane Partnership (OGMP) 2.0. Inisiatif utama dari United Nations Environment Programme (UNEP) ini bertujuan meningkatkan pengukuran dan pelaporan emisi metana di industri migas.

Kini, anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk. (MedcoEnergi) tersebut telah menjadi bagian dari komunitas global yang terdiri dari lebih dari 150 perusahaan migas di 90 negara. Ini memungkinkan adanya pertukaran pengetahuan mengenai standar tertinggi dan praktik terbaik dalam mitigasi emisi metana. Apalagi, kemitraan ini menerapkan standar tertinggi dalam transparansi dan akuntabilitas pelaporan emisi metana.

“Keikutsertaan Medco E&P dalam OGMP 2.0 merupakan pencapaian penting dalam mewujudkan aspirasi Net-Zero. Pelaporan emisi metana yang transparan dan kredibel merupakan landasan upaya dekarbonisasi kami, sekaligus memperkuat peran MedcoEnergi sebagai perusahaan energi yang bertanggung jawab dan berstandar global,” ujar CEO MedcoEnergi, Roberto Lorato, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Jum’at (7/11).

Menurut Roberto, langkah ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan dan perubahan iklim MedcoEnergi. Aksi korporasi ini sekaligus menegaskan komitmen perusahaan untuk mencapai Net-Zero emisi gas rumah kaca Cakupan 1 dan 2 pada tahun 2050, serta Cakupan 3 pada tahun 2060.

Manfaat utama bagi perusahaan migas bergabung dengan OGMP 2.0 terutama terkait dengan transparansi, kredibilitas, dan pencapaian target iklim global. Kemitraan ini menyediakan kerangka kerja pelaporan standar emas untuk mengukur dan melaporkan emisi metana secara akurat. Hal ini meningkatkan transparansi operasional perusahaan di mata investor, regulator, dan publik.

“Keanggotaan juga menunjukkan komitmen serius perusahaan terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dan pencapaian target net-zero. Ini membantu kami menyelaraskan strategi keberlanjutan mereka dengan target iklim nasional dan global, seperti Global Methane Pledge,” ungkapnya.

Dengan menerapkan standar pelaporan yang ketat, mencapai “Standar Emas” melalui pelaporan Tingkat 4 dan 5, Medco E&P dapat meningkatkan kredibilitas lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) mereka. Ini dapat menarik investor yang berfokus pada keberlanjutan. Partisipasi dalam kemitraan ini kian memperkuat peran perusahaan sebagai entitas energi yang bertanggung jawab, sejalan dengan agenda transisi energi global menuju sumber energi yang lebih bersih.

“Pengukuran emisi metana yang lebih baik memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kebocoran secara lebih efektif, yang tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan mencegah kerugian produk,” tegas Roberto.

Panel Surya

Bergabung dengan OGMP 2.0 bukanlah hal mustahil. Pasalnya, Medco E&P telah mencatat penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Cakupan 1 dan 2 lebih dari 1,5 juta ton CO2e dibandingkan tahun dasar 2019. Jumlah ini melampaui target tahun 2025 yang sebesar 1,08 juta ton CO2e atau setara 20 persen dari total emisi tahun dasar 2019.

Direktur Utama Medco E&P, Ronald Gunawan, mengatakan penurunan emisi  merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan. Dalam pelaksanaannya, sejumlah inisiatif dilakukan, antara lain efisiensi dan pengurangan emisi yang diterapkan di seluruh wilayah operasi, baik di Indonesia maupun aset internasional.

”Pengurangan emisi adalah bagian dari upaya meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh. Medco E&P terus menjalankan berbagai inisiatif pengurangan emisi yang dilakukan secara paralel dengan operasi kami di lapangan,” ungkap Ronald.

Pada tahun 2024, Medco E&P telah menerapkan 43 inisiatif di berbagai aset dengan puncak pengurangan emisi GRK tahunan mencapai 181.727 ton CO2e. Kontribusi terbesar berasal dari kegiatan flare avoidance (penghindaran gas suar) di blok Corridor PSC, yaitu sebesar 53.713 ton CO2e.

Pengurangan emisi juga diperoleh dari program optimalisasi proses produksi untuk efisiensi penggunaan bahan bakar gas, dan mengurangi emisi gas metana. Di wilayah offshore, panel surya digunakan untuk mendukung kebutuhan energi di beberapa anjungan di South Natuna Sea Block B dan Blok Sampang.

Penggunaan panel surya juga diterapkan pada operasi aset onshore. Sebanyak 1.500 panel surya telah terpasang di atap bangunan di beberapa area operasional blok Corridor PSC. Inisiatif ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 934 ton CO₂e per tahun, dan kian mempertegas langkah nyata Medco E&P dalam mendukung transisi energi.

”Proyek ini menjadi bukti bahwa energi terbarukan dapat berjalan beriringan dengan kegiatan hulu migas. Ini bukan sekadar instalasi teknologi, tapi bagian dari langkah nyata untuk mendukung efisiensi operasi sekaligus mengurangi jejak karbon kami,” ungkap Ronald.

PLTS atap berkapasitas 885 KWp tersebut beroperasi di area Suban, Grissik, Dayung, dan Sumpal. Pemanfaatan energi terbarukan ini diproyeksikan menghasilkan lebih dari 1.124 MWh peak listrik bersih setiap tahun. Selain menghemat konsumsi gas sebagai bahan bakar yang sebesar 18 MMscf per tahun, pengurangan emisi karbon ini setara dengan emisi yang dikeluarkan mobil yang menempuh perjalanan hingga 5,5 juta kilometer setiap tahun.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di wilayah kerja blok Corridor, Sumatera Selatan, yang dikelola KKKS Medco E&P Grissik.

Medco E&P juga melakukan Konversi penggunaan genset ke sistem kelistrikan dilakukan di Oman, Grati Facilities (Jawa Timur), dan Rawa Gas Plant (Sumatra Selatan). Penggunaan biodiesel juga telah diimplementasikan untuk kapal suplai di Thailand.

Efisiensi

SKK Migas mengapresiasi upaya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Medco E&P dalam memasang 1.500 panel surya atap di wilayah kerja blok Corridor. Proyek ini dinilai sebagai langkah positif karena sejalan dengan komitmen Pemerintah dalam mendukung transisi energi dan menekan emisi karbon, terutama dari daerah operasi hulu migas.

“SKK Migas mengapresiasi langkah Medco E&P Grissik tersebut karena proyek ini membuktikan bahwa energi terbarukan dapat bersinergi dengan kegiatan hulu migas,” ujar Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heu Setyadi, yang dihubungi secara terpisah.

Menurut Heru, instalasi panel surya ini adalah contoh nyata bahwa transisi energi bukan hanya tentang teknologi baru, tetapi juga tentang meningkatkan efisiensi operasional sambil mengurangi jejak karbon. Inisiatif ini sangat positif, dan menyoroti keberhasilan perusahaan dalam mengintegrasikan sumber energi terbarukan ke dalam operasi hulu migas untuk mendukung keberlanjutan.

Energi Terbarukan

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang induk usaha Medco E&P,  yakni MedcoEnergi, dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke seluruh rantai bisnis. MedcoEnergi secara konsisten mendorong efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan yang rendah karbon, serta penurunan emisi gas rumah kaca. Baik melalui proyek tenaga surya, panas bumi (geothermal), maupun inisiatif pengurangan emisi lainnya di seluruh wilayah operasi.

Akhir Juni 2025 lalu, dua proyek pembangkit listrik energi terbarukan yang digarap anak usaha MedcoEnergi, PT Medco Power Indonesia (Medco Power), diresmikan operasinya oleh Presiden Prabowo Subianto. Kedua pembangkit listrik tersebut, PLTP Ijen dan PLTS Bali Timur, menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional yang berkelanjutan dan bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk menuju swasembada energi.

”Beroperasinya PLTP Ijen dan PLTS Bali Timur menjadi bukti bahwa Indonesia menuju kemandirian. Kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri dan kita akan mampu memberi energi untuk seluruh rakyat Indonesia dalam keadaan yang efisien dan ekonomis,” ujar Presiden Prabowo saat meresmikan secara daring kedua pembangkit listrik tersebut bersama 53 proyek energi terbarukan lainnya yang tersebar 15 provinsi di Indonesia, Kamis (26/6).

PLTP Ijen berlokasi di Bondowoso, Jawa Timur. Sementara PLTS Bali Timur berlokasi di Karangasem, Bali. Kedua pembangkit listrik ini mendukung jaringan listrik nasional dan target energi terbarukan Indonesia.

PLTP Ijen di Belawan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur.

Menurut  Presiden Direktur Medco Power, Eka Satria, integrasi PLTP Ijen dan PLTS Bali Timur ke dalam jaringan listrik Jawa-Bali akan meningkatkan keandalan energi serta keberlanjutan bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.

PLTP Ijen dioperasikan oleh PT Medco Cahaya Geothermal, perusahaan patungan antara Medco Power Indonesia dan Ormat Technologies Inc. PLTP ini menjadi proyek panas bumi pertama di Jawa Timur.

Unit pertama pembangkit listrik ini memiliki kapasitas 35 megawatt (MW) dan mampu menyediakan listrik bersih bagi lebih dari 85.000 rumah tangga. PLTP Ijen diperkirakan juga dapat mengurangi emisi CO₂ hingga 230.000 ton per tahun.

Sementara PLTS Bali Timur kini menjadi PLTS berskala utilitas terbesar di Bali. PLTS ini dikembangkan oleh PT Medcosolar Bali Timur, hasil kerja sama Medco Power dan Solar Philippines.

Dengan kapasitas 25 MWp, pembangkit listrik ini diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 50 GWh listrik per tahun, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 42.000 rumah. PLTS ini diperkirakan dapat mengurangi lebih dari 44.000 ton CO₂ per tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *