Serang, Petrominer – Presiden Joko Widodo telah melakukan groundbreaking tiga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Banten dengan total kapasitas mencapai 4.000 megawatt (MW). Tidak hanya itu, Presiden juga meresmikan beroperasinya PLTU Banten dengan kapasitas 660 MW.
Acara peresmian dan groundbreaking pembangkit listrik tersebut digelar di Desa Terate Kecamatan Kerawatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Kamis (5/10). Ini merupakan dukungan nyata Pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur kelistrikan di Banten, di mana nantinya listrik yang dihasilkan akan mendukung kehandalan sistem Jawa-Bali.
Selain pembangkit listrik, Presiden juga melakuka groundbreaking terminal batubara yang akan dibangun oleh PT PLN (Persero). Terminal ini diharapkan mampu menampung sampai 20 juta ton batubara untuk mendukung operasional PLTU di wilayah Banten.
Menurut Direktur Utama PLN Sofyan Basir, nilai total investasi dari seluruh proyek tersebut sangat besar dan mampu menyerap tenaga kerja yang banyak.
“Dari seluruh proyek tersebut total investasi lebih kurang 100 triliun rupiah dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 10 ribu orang. Kehandalan kelistrikan tanah air menjadi yang utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi warga,” ungkap Sofyan.
Tidak hanya itu, paparnya, multiplier effect yang ditimbukan dari pembangunan PLTU di wilayah banten diperkirakan sangat luas. Ini diharapkan bisa membantu perekonomian Banten dan mengurangi tingkat pengangguran dengan adanya lapangan kerja baru.
Berikut keempat proyek yang di groundbreaking dan diresmikan oleh Presiden Jokowi:
1. PLTU IPP Jawa 7
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini dirancang dengan kapasitas 2×1.000 megawatt (MW). Pembangkit ini dibangun oleh pengembang konsorsium PT Shenhua Energy Company Limited dan anak perusahaan PLN yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali.
Progress pembangunan pembangkit ini telah mencapai sekitar 35 persen dan diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2019. Nilai investasi mencapai Rp 35 triliun. Proyek raksasa ini diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 3000 orang dalam proses konstruksi.
PLTU ini ditargetkan selesai pada April 2020. Menggunakan skema power purchasing agreement PLN membeli listrik dengan harga US$ 4,2 cent per KWH.
PLTU Jawa 7 akan menjadi salah satu pembangkit terbesar di Banten. Pembangkit ini menggunakan teknologi ultra super critical yang ramah lingkungan. Ini sesuai dengan komitmen PLN untuk menurunkan kadar emisi hingga 23 persen tahun 2026.
2. PLTU IPP Jawa 9-10
PLTU ini akan menjadi tambahan pembangkit untuk sistem Jawa Bali, dengan total kapasitas 2.000 MW. PLTU Jawa 9-10 ini merupakan perluasan dari PLTU Suralaya 1 sampai 8 yang memiliki kapasitas sebesar 4.000 MW.
Dibangun di atas tanah seluas 58 hektar, pembangkit listrik ini mengunakan mesin ultra super critical yang ramah lingkungan dengan tingkat pencemaran emisi yang rendah.
Total investasi untuk Suralaya unit 9-10 ini mencapai Rp 46 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja ditargetkan mencapai 4.000 orang mulai dari proses konstruksi hingga pengoperasian, sehingga memberikan multiplier effect bagi warga sekitar lokasi pembangkit.
Proyek ini digarap oleh PT Indo Raya Tenaga, yang merupakan konsorsium PT Indonesia Power (51 persen) dan PT Barito Pacific Tbk (49 persen). Pembentukan konsorsium ini merupakan buah dari implementasi Peraturan Presiden No. 14 tahun 2017 Tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.
3. PLTU IPP Banten
Pertumbuhan ekonomi di Jawa Bagian Barat diperkirakan menjadi sangat pesat dengan adanya penambahan energi listrik dari PLTU Banten kapasitas 660 MW. Pembangkit ini juga akan menambah kehandalan pasokan listrik sistem Jawa Bali, terutama untuk wilayah Banten.
Proyek senilai Rp 18 triliun ini terletak di Desa Salira, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pembangkit listrik yang telah beroperasi pertengahan tahun ini menggunakan teknologi super critical yang dilengkapi fasilitas penurun emisi gas buang.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakt sekitar lokasi pembangkit, PLTU Banten juga menyerap tenaga kerja sejak masa konstruksi hingga operasi telah menyerap tenaga kerja lebih dari 3.000 orang.
4. Coal Terminal
Untuk mendukung proyek infrastruktur kelistrikan di Banten, PLN juga membangun Coal Terminal Banten. Terminal batubara ini mempunyai kemampuan untuk mencampur batubara dengan berbagai spesifikasi yang masih ada di dalam rentang spesifikasi batubara PLTU milik PLN di Jawa bagian Barat, seperti PLTU Suralaya, Labuan, Pelabuhan Ratu, Lontar dan PLTU Jawa 7.
Keberadaan terminal batubara akan memberikan nilai tambah bagi PLN. Pertama, menjamin keamanan dan kontinuitas pasokan batubara. Kedua, menjamin kualitas batubara yang sesuai dengan kebutuhan PLTU tujuan. Dan ketiga, mengefisienkan biaya logistik (transportasi dan inventori). Terminal ini juga bisa memberikan fleksibilitas pasokan batubara serta menampung pasokan bagi domestic market obligation.
Terminal batubara ini merupakan perusahaan patungan antara anak perusahaan PLN yaitu PT PLN Batubara dengan Gama Coorp. Nilai investasi pembangunan terminal ini diperkirakan lebih kurang Rp 2 triliun, di mana nantinya mampu menampung hingga 20 juta ton batubara.









Tinggalkan Balasan