Jakarta, Petrominer — Pasar Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk industri domestic dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami situasi yang anomali. Selain dipengaruhi penurunan harga jual minyak dunia dan perubahan regulasi impor, sektor industri dan pertambangan sebagai customer utamanya juga masih lesu. Belum lagi pengaruh dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
Kondisi seperti itu dipaparkan oleh Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Gandhi Sriwidodo, dalam acara bertajuk CEO Talk di Jakarta, Kamis lalu (27/7).
Meski menghadapi beragam tantangan seperti di atas, jelas Gandhi, PPN terus bertahan dan bahkan mampu menghasilkan kenaikan laba bersih dalam tiga tahun terakhir. Ini berkat keberhasilan strategi yang diterapkan untuk meminimalisir dampak situasi eksternal tersebut.
“Dalam situasi yang anomali tersebut, kami menerapkan sejumlah strategi yang meminimalisir dampak situasi eksternal, hingga menempatkannya pada posisi kedua market share setelah PT Pertamina (Persero). Harga minyak yang menurun dari 100 ke 60 membuat PPN menerapkan efisiensi dalam biaya-biaya produk maupun operasional, serta mencari customer baru dan penambahan volume,” paparnya.
Hasilnya, pencapaian laba bersih PPN dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu US$ 37 juta pada tahun 2014, US$ 67 juta tahun 2015, serta US$ 96 juta tahun 2016. Itu artinya meningkat 259 persen atau hampir tiga kali lipat.
Untuk kinerja keuangan, PPN mencatat EBITDA Margin 3,79% (2014), 8,23% (2015), dan 8,82% (2016), serta Net Profit Margin 2,09% (2014), 5,45% (2015), dan 7,79% (2016). Sementara kinerja operasional, terjadi peningkatan Trading Fuel & Non Fuel menjadi sebesar 1.38 juta Kiloliter (KL) pada tahun 2014, 1,54 juta KL (2015), dan 2,3 juta KL (2016).
Dari total market size trading BBM industri sebesar 18,7 juta KL, PPN menguasai 15%, Pertamina 58%, dan sisanya dari beberapa kompetitor.
“Target PPN selanjutnya adalah menguasai hingga 20% dari pasar trading BBM, antara lain dengan layanan Total Energy Services untuk kebutuhan energi customer dan mengembangkan potensi bisnis baru (new venture),” ujar Gandhi.

Dia menjelaskan, dengan metode total energy services, PPN mengelola seluruh kebutuhan energi secara menyeluruh sehingga customer dapat berfokus sepenuhnya pada operasional bisnis dan produksinya.
Dengan posisi yang semakin kokoh, PPN pun memiliki peluang berperan aktif dalam mendukung program pemerataan ekonomi dan pembangunan yang sedang digalakkan Pemerintah, antara lain dengan memastikan ketersediaan/distribusi bahan baku ke berbagai daerah. Melalui layanan dan pasokan energi yang menyeluruh dan menjangkau hingga ke pelosok, PPN berupaya menopang pembangunan di setiap daerah, khususnya di luar Jawa dan Sumatera.









Tinggalkan Balasan