Bandung, Petrominer — PT PLN (Persero) terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) untuk pembangkit listrik. Dalam 10 tahun ke depan, BUMN listrik ini mentargetkan tambahan 22 ribu megawatt (MW), dari saat ini yang hanya 6 ribu MW.
Menurut Kepala Divisi EBT PLN, Tohari Hadiat, pembangkit listrik EBT yang dioperasikan PLN hanya sekitar 12 persen dari total kapasitas terpasang saat ini yang mencapai 51 ribu MW. Untuk itu, PLN berharap bisa meningkatkan porsinya EBT dalam beberapa tahun mendatang.
“Dalam 10 tahun ke depan, target PLN jadi 23 persen porsinya atau tambah 22 ribu MW. Sedangkan di 2026, target kapasitas terpasang PLN bisa mencapai 110 ribu MW,” ungkap Tohari dalam acara media gathering di PLTA Lamajan, Bandung, Jum’at (5/5).

Untuk mendukung pengembangkan EBT, jelasnya, PLN juga membuka selebar-lebarnya bagi kalangan swasta untuk ikut berpartisipasi. Pihak swasta diberi kesempatan untuk membangun pembangkit, dan PLN yang akan membeli listrik dengan harga yang kompetitif.
Pembangkit EBT yang banyak diminati adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Hingga akhir tahun 2016, pembangkit EBT yang sudah beropersi mencapai 6.000 MW, yang dalam tahap konstruksi 2.276 MW. Sedangkan yang sudah teken kontrak dengan PLN mencapai 971 MW.
“Indonesia miliki 52 ribu MW potensi EBT yang sudah ditemukan PLN. Semuanya siap dikembangkan, tapi tetap menunggu permintaan dan pangsa pasarnya,” papar Tohari.
Dia menjelaskan, salah satu strategi pengembangan rasio elektrifikasi dengan EBT adalah mengembangkan yang sesuai dengan karakteristik daerah. Jika banyak kayu, bisa pakai biomass. Dengan begitu, tidak ada biaya transportasi.








Tinggalkan Balasan