, ,

Sawit, Dari Sekedar Hiasan Jadi Andalan

Posted by

Pangkal Pinang, Petrominer — Siapa menduga kelapa sawit yang kini menjadi primadona dan andalan ekspor Indonesia dulunya hanyalah tanaman hias belaka. Pada tahun 1960-an, tanaman ini banyak tumbuh di pinggir jalan di Deli, Sumatera Utara. Kala itu, tanaman tersebut hanya dijadikan hiasan atau tanaman pinggir jalan.

Namun, seiring berjalannya waktu, tanaman sawit kini telah menjadi komoditas primadona andalan Indonesia.

“Dulu sawit cuma tanaman hiasan, tapi sekarang sudah tergarap industri, masyarakat juga mulai memanfaatkan sawit,” kata Ketua Dewan Pengawas BPDP Sawit, Rusman Heriawan, dalam acara Workshop Media yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kepala Sawit, Rabu (26/4).

Berdasarkan data BPDP Kepala Sawit, tercatat saat ini ada sekitar 11,49 juta hektar lahan kelapa sawit yang tersebar di beberapa wilayah di tanah air. Angka tersebut menunjukan, selain industri-industri besar, masyarakat pun mulai menggarap potensi sawit untuk dijadikan pendapatan utama.

Menurut Rusman, berdasarkan porsi kepemilikannya, perusahaan swasta mengelola sekitar 52 persen lahan sawit, masyarakat umum sekitar 41 persen dan negara mengelola 7 persen lahan sawit.

Jika dilihat sebarannya, Pulau Sumatera adalah pulau terbesar yang memiliki luas garapan lahan sawit sebanyak 7,19 juta hektar, di susul Pulau Kalimantan sebanyak 3,75 juta hektar, lalu ada di Sulawesi sebanyak 382.333 hektar, Jawa 36.374 hektar, Maluku dan Papua 120.847 hektar.

Industri sawit tanah air terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan volume ekspor produk sawit yang terus meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan data BPDP Kepala Sawit, volume total ekspor produk sawit di 2014 mencapai 21,77 juta ton, 2015 26,39 juta ton, 2016 28,26 juta ton dan hingga kuartal pertama 2017 sudah mencapai 6,34 juta ton.

Melihat potensi besarnya produk kelapa sawit, membuat negara-negara berkembang yang tak bisa menanam sawit di negaranya iri dengan potensi sawit yang ada di Indonesia. Semakin banyak yang menyoroti perkembangan sawit, mulai dari moratorium pembukaan lahan baru, isu kerusakan lingkungan hingga kampanye negatif terhadap industri sawit.

“Negara berkembang banyak yang iri, karena tanaman sawit hanya tumbuh di iklim tropis, enggak bisa tumbuh di Amerika, enggak bisa tumbuh di Eropa, mungkin ya,” kata Direktur Utama BPDP Sawit, Dono Boestami.

Mengapa negara-negara berkembang dikatakan iri terhadap produk kelapa sawit Indonesia, karena di negara-negara berkembang hanya bisa menghasilkan soybeen atau minyak kedelai maupun rapeseed yang dikelola menjadi bahan untuk membuat vegetable oil.

Dilihat dari perbandingan hasil olahan per hektarnya, kedua produk tersebut kalah jauh dengan kelapa sawit. Dalam 1 hektar kebun sawit bisa menghasilkan 3,85 ton minyak sawit, sementara soybeen hanya menghasilkan 0,45 ton minyak kedelai dan rapeseed 0,69 ton per hektar.

Dengan capaian tersebut, negara-negara berkembang sadar bahwa kebutuhan minyak makan untuk masyarakat di negaranya tidak bisa terpenuhi. Karena itulah, mau tidak mau, mereka harus melakukan ekspor minyak sawit dari Indonesia.

“Deman (permintaan) minyak sawit kian tinggi mengikuti pertumbuhan penduduk dunia. Kebutuhan minyak makan dunia dari sawit itu on the track,” tutur Dono.

Direktur Utama BPDP Sawit, Dono Boestami. (Petrominer/Sony)

Tak Rusak Lingkungan

Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bedjo Santoso, menegaskan bahwa tudingan tanaman kelapa sawit merusak lingkungan adalah sangat keliru. Informasi yang menyesatkan seperti itu tidak berdasar dan diduga dilontarkan atas dasar persaingan usaha.

Bedjo justru menyebutkan bahwa perkebunan sawit selama ini dinilai tidak ramah lingkungan. Stigma negatif tersebut berasal dari informasi yang salah dan tidak memiliki dasar penelitian yang ilmiah.

Menurut Bedjo, informasi yang menyesatkan tersebut berasal dari pesanan barat yang tujuannya melindungi komoditasnya, baik itu tanaman rapeseed, sun flower (bunga matahari), maupun soybean (kedelai).

“Semua stigma negatif itu berasal dari informasi yang tidak berdasar. Karena dari berbagai penelitian, semuanya itu tidak terbukti,” tuturnya.

“Tanaman kelapa sawit paling ramah lingkungan dibandingkan jenis tanaman hutan lainnya. Apalagi dari sisi penyerapan air, sawit justru lebih efisien.”

Dalam kesempatan itu, Bedjo juga menjelaskan bahwa dalam setahun, sawit menyerap air sebanyak 1.104 milimeter. Ini lebih sedikit jika dibandingkan tanaman sengon (1.355 milimeter), jati (1.300 milimeter), mahoni (1.500 milimeter), maupun pinus (1.975 milimeter).

Sementara itu dari sisi penyerapan karbondioksida (CO2), sawit justru lebih banyak menyerap CO2 jika dibandingkan empat tanaman hutan tersebut. Dengan begitu, setiap hamparan sawit seluas 1 hektar mampu menyerap CO2 sebanyak 36 ton.

“Tanaman kelapa sawit paling ramah lingkungan dibandingkan jenis tanaman hutan lainnya. Apalagi dari sisi penyerapan air, sawit justru lebih efisien,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *