Cirebon, Petrominer — Di tengah kondisi industri minyak dan gas bumi (migas) nasional yang belum stabil, PT Pertamina EP tetap komitmen menjalankan operasinya. Dengan mulai produksinya (onstream) dua proyek bulan ini, perusahaan ini menyakini mampu melampaui target yang telah ditetapkan.
Adalah Proyek Pengembangan Gas Matindok di Blok Matindok, Sulawesi Tengah dan Proyek Pengembangan Paku Gajah di Sumatera Selatan. Kedua proyek yang mulai onstream bulan April 2017 ini akan memberi tambahan produksi gas 105 MMSCFD dan 45 MMSCFD serta kondesat 1.100 BOPD.
“Dengan onstream-nya kedua proyek tersebut, kami berharap dapat melampaui target produksi yang ditetapkan sebesar 85.000 BOEPD dan target laba bersih sebesar US$ 596 juta,” ujar PTH President Director Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, Selasa (11/4).
Nanang menyatakan, meski sebagian asetnya sudah mature, pihaknya tetap berupaya semaksimal mungkin untuk menjawab tantangan itu agar produksi migas yang ditargetkan dapat dipenuhi. Dalam menjalankan operasinya, Pertamina EP dihadapkan dengan tantangan berupa luasan Wilayah Kerja Pertambangan yang mencapai seluas 113.614 KM2 dan mengelola lebih dari 300 struktur migas serta lebih dari 2.100 sumur migas aktif di seluruh Indonesia.
“Dengan potensi luasan wilayah tersebut dimana mayoritas fasilitas kami merupakan aset yang mature, kami tetap berupaya semaksimal mungkin untuk menjawab tantangan tersebut agar produksi migas yang ditargetkan dapat kami penuhi,” tegasnya.
Tidak hanya aset dan fasilitas produksi mature yang digarap secara serius. PEP juga juga menggarap beberapa proyek yang onstream dalam tiga tahun terakhir. Contohnya, Proyek Pengembangan Cikarang Tegal Pacing dengan target produksi gas puncak mencapai 14 MMSCFD. Proyek ini sudah onstream awal Maret 2017 lalu.
Menurut Nanang, Proyek Pengembangan Gas Matindok yang menelan biaya US$ 692 juta dan Proyek Pengembangan Paku Gajah yang menelan biaya US$ 139,7 juta. Kedua proyek tersebut kapasitas produksinya masing-masing 105 MMSCFD dan 45 MMSCFD serta kondesat 1.100 BOPD.
Ada satu proyek lagi yaitu Proyek Pengembangan Lapangan Jirak (EOR). Proyek ini sudah mencapai progress fisik sebesar 7.6%, ditargetkan rampung Desember 2018. Dari proyek ini, ditargetkan tambahan produksi mencapai 2.780 BOPD.
Selain program pengembangan, Pertamina EP juga terus berupaya melakukan pencarian cadangan. Ini menunjukkan peningkatan signifikan. Kinerja Seismik 2D 2016 mencapai 100% yaitu sebesar 953 KM dan Seismik 3D 2016 mencapai 128% yaitu sebesar 1.008 KM2. Dan untuk target Seismik 2017 untuk 2D mencapai 883 KM dan 3D mencapai 621 KM2.
“Untuk tren ke depan, menurut kami potensi yang besar letaknya ada di Kawasan Timur Indonesia. Dan kami sudah masuk di Kawasan Timur Indonesia seperti di Papua Barat dengan kegiatan seismik Klamasosa dengan total luasan 500 KM yang dikerjakan secara multiyears, untuk tahun 2017 ini target sebesar 200 KM dan sisanya 300 KM di Tahun 2018,” ujar Nanang.








Tinggalkan Balasan