, ,

Geopolitik dan Transisi Energi, Tema Paling Mendesak bagi Migas

Posted by

Jakarta, Petrominer – Laporan terbaru dari GlobalData menyebutkan bahwa geopolitik menjadi salah satu tema ekonomi makro utama bagi industri minyak dan gas bumi (migas) sejak dimulainya konflik Ukraina. Secara kritis, konflik ini juga berdampak pada tema rantai pasokan (supply chain) seiring terbentuknya aliansi terbaru.

“Meski begitu, perusahaan migas akan terus mengejar tema industri baru yang mendukung transisi energi menuju teknologi tanpa emisi, seperti energi terbarukan, hidrogen rendah karbon, carbon capture and storage (CCS), dan kendaraan listrik (EV),” tulis GlobalData dalam laporan analisa terbarunya yang diperoleh PETROMINER, Kamis (27/4).

Dalam laporan tematiknya berjudul “Top 20 Oil & Gas Themes 2023”, perusahaan data dan analitik terkemuka ini mengidentifikasi 20 tema terkemuka yang berdampak pada industri migas tahun 2023. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), blockchain, komputasi cloud, keamanan siber (cyber security), Internet of Things (IoT), robotika, dan metaverse akan menjadi tema teknologi yang mengganggu dan berdampak pada industri. Selain itu, tema mingas tradisional yaitu LNG, shale gas, dan kilang yang terintegrasi diharapkan mampu membuat perusahaan tetap kompetitif di pasar energi.

“Konflik geopolitik saat ini di Eropa Timur sangat berdampak pada industri migas global dan membentuk kembali rantai pasokannya. Dalam kondisi seperti ini, pelaku industri perlu merasakan skenario yang dapat mengurangi profitabilitas mereka atau membuka jalan pasar baru,” ujar  Analis Migas GlobalData, Ravindra Puranik. Environmental, social, and governance (ESG) juga semakin menjadi bagian integral bagi perusahaan besar, terlebih lagi bagi perusahaan penghasil emisi karbon tinggi di industri migas. Apalagi, industri ini bermaksud untuk mencapai keseimbangan antara komitmen lingkungan dan pasokan energi global.

“Transisi yang sedang berlangsung menuju sumber energi bersih juga akan sangat membebani para pelaku industri migas. Tema seperti energi terbarukan dan kendaraan listrik merupakan pengganggu utama industri ini. Sementara CCS dan hidrogen rendah karbon akan menciptakan peluang baru bagi pelaku industri migas di tahun-tahun mendatang,” paparnya.

Tema LNG, shale gas, dan kilang yang terintegrasi juga berada di persimpangan utama dengan mitra utilitas mereka di sektor energi. LNG dan shale gas akan terus memainkan peran penting dalam keamanan energi global. Sementara tema kilang terintegrasi menandakan perubahan pola permintaan di sektor hilir pengolahan dan petrokimia.

“Di tengah tema ESG, ekonomi makro dan industri yang berdampak pada industri migas, tema teknologi akan terus membentuk kapabilitas operasional dalam dekade ini. Investasi tepat waktu dan metodis dalam tema teknologi dapat memberikan keunggulan kompetitif bagi pelaku migas,” ujar Puranik menyimpulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *