,

Gunung Merapi Alami Rentetan Awan Panas Guguran

Posted by

Yogyakarta, Petrominer – Masyarakat sekitar Gunung Merapi dikejutkan dengan terjadinya rentetan awan panas guguran di Gunung Merapi yang bersumber dari longsoran kubah lava barat daya, Sabtu siang (11/3). Berdasarkan pantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Daerah Istimewa Yogyakarta hingga pukul 16.00 WIB, tercatat terjadi 24 kali awan panas guguran.

“Kami mendapat laporan dari BPPTKG, siang tadi pukul 12:12 WIB telah terjadi rentetan awan panas guguran di Gunung Merapi, dan hingga pukul 15:00 WIB telah terjadi sebanyak 21 kali awan panas guguran dengan jarak luncur kurang lebih lebih 4 km ke arah barat daya yaitu di alur Kali Bebeng dan Krasak,” ujar Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM, Sugeng Mujiyanto, Sabtu (11/3).

Sugeng menjelaskan, pada saat kejadian, angin di sekitar Gunung Merapi bertiup ke arah barat laut-utara. Awan panas guguran ini menyebabkan hujan abu ke beberapa tempat terutama di sisi barat laut-utara Gunung Merapi dan mencapai Kota Magelang.

“Suara guguran terdengar dari Pos Kaliurang dan Pos Babadan sebanyak 6 kali dengan intensitas kecil hingga sedang. Aktivitas vulkanik internal juga masih tinggi ditunjukkan oleh data seismisitas dan deformasi. Seismisitas internal seperti gempa vulkanik dalam (VTA) terjadi sebanyak 77 kejadian/hari, gempa vulkanik dangkal (VTB) 1 kejadian/hari, gempa Multifase (MP) 6 kejadian/hari, dan gempa guguran sebanyak 44 kejadian/hari. Sedangkan laju deformasi EDM RB1 sebesar 0.5 cm/hari,” ungkapnya.

Menurut Sugeng, saat ini aktivitas erupsi Gunung Merapi terhitung masih tinggi. Selama minggu ini, guguran lava teramati sebanyak 19 kali ke arah barat daya (hulu Kali Boyong, Kali Bebeng dan Kali Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimal 1.200 m.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih berada pada tingkat “Siaga” (Level III). Hingga kini, potensi bahaya masih tetap berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Terkait dengan aktivitas saat ini, Sugeng meminta kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bencana dan merekomendasikan kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Gunung Merapi yakni, Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya-upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini.

“Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi,” pungkas Sugeng.

Badan Geologi melalui PVMBG-BPPTKG terus berupaya dalam mitigasi bahaya Gunung Merapi, baik melalui pemantauan, penilaian bahaya, penyebaran informasi, dan sosialisasi aktivitas Gunung Merapi. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi aktivitas Gunung Merapi dari sumber yang terpercaya dan mengikuti rekomendasi dari Badan Geologi, pemerintah daerah, dan BPBD setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *