Bandung, Petrominer – Kejadian Rob di pesisir pantura Jawa Tengah telah berdampak signifikan terhadap pemukiman dan kegiatan perekonomian masyarakat. Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah telah dilanda banjir rob dan gelombang pasang sejak Senin (23/5) lalu.
Wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Rembang.
Pada lokasi-lokasi tertentu, ketinggian banjir rob bervariasi antara 5 cm hingga lebih dari 1 m seperti telah terjadi di kota Semarang. Hal ini diperparah dengan jebolnya tanggul penahan air laut sehingga air banjir rob di daerah dekat tanggul menjadi lebih tinggi.
Menurut Sekretaris Badan Geologi, Kementerian ESDM, Ediar Usman, upaya mitigasi dengan tanggul yang sudah dilaksanakan adalah salah satu upaya yang baik. Meski begitu, ada faktor yang perlu dipertimbangkan lagi dalam rencana desain pembuatan tanggul tersebut.
“Ketinggian tanggul selain memperhatikan perhitungan dari air pasang karena faktor iklim, sebaiknya juga mempertimbangkan kombinasi terhadap efek penurunan muka tanah sekitar tanggul, baik yang bersifat lokal karena efek beban kontruksi maupun pengaruh di sekelilingnya karena faktor penurunan tanah alami,” ujar Ediar dalam jumpa pers terkait Bencana Banjir Rob di Pantai Utara Jawa Tengah yang diselenggarakan secara daring, Selasa (31/5).
Dia juga menyebutkan perlunya upaya mitigasi area yang terdampak banjir rob jika terjadi kegagalan struktur tanggul. Salah satunya melakukan pemetaan area terdampak rob akibat tanggul roboh disertai aksi upaya pencegahan yang bersifat teknis yang bersifat mengendalikan rob.
“Perpaduan faktor iklim dan penurunan tanah adalah dua fenomena yang saling terkait. Faktor iklmi secara langsung dan cepat dapat menyebabkan rob sedangkan faktor penurunan tanah secara tidak langsung atau berangsur angsur berontribusi terhadap terjadinya penurunan elevasi muka tanah sehingga memicu perluasan area genangan rob,” ungkap Ediar.
Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Rita Susilawati. Banjir rob di kawasan pantura Jawa ini disebutnya sebagai kombinasi antara penurunan muka tanah dan perubahan iklim.
“Di beberapa wilayah, jika tidak terjadi penurunan muka tanah, tetap bisa terjadi banjir, namun efeknya kemungkinan tidak sebesar dengan adanya penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah di Jawa Tengah, dari hasil penelitian kami itu lebih disebabkan karena karakteristik tanah atau batuannya, karena memang terjadi konsolidasi alamiah,” jelas Rita.
Untuk melakukan mitigasi bencana banjir rob, Badan Geologi memberikan rekomendasi antara lain dengan membuat peta sebaran tanah lunak dan mengidentifikasi kedalaman tanah lunak.
“Secara regional kita sudah mengetahui (peta sebaran tanah lunak), tetapi secara lebih detail pemetaan itu terus kami lakukan. Kemudian juga dilakukan penyelidikan geologi teknik untuk mengetahui kepentingan pembangunan di atas tanah lunak dan melakukan pemetaan seismik, dari hasil pemetaan itu kita bisa mengidentifikasi penyebaran tanah lunak dan sifat geologi teknik bawah permukaan,” paparnya.
Selain itu, dilakukan pula pengukuran/monitoring laju penurunan muka tanah, pengutamaan pemanfaatan sumber air permukaan, pengendalian pemakaian air tanah sesuai zonasi konservasi air tanah, dan pembuatan tanggul dengan mempertimbangkan laju penurunan muka tanah.
“Kemudian yang paling penting tentu saja melakukan pengaturan tata ruang dan perencanaan pembangunan infrastruktur dengan mempertimbangkan kondisi teknik bawah permukaan daerah tanah lunak. Tentu pengaturan dan pembangunan, serta rekayasa teknologi harus berdasarkan rekomendasi dari kondisi geologi,” jelas Rita.









Tinggalkan Balasan