, , ,

Bantahan atas Tuduhan Kebocoran Gas H2S di Sorik Marapi

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) memastikan tidak terjadi kebocoran gas H2S di lokasi proyek panasbumi Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Ini disampaikan menyusul adanya laporan dugaan kebocoran gas H2S saat kegiatan uji sumur AAE-05 di wellpad AAE.

“Pada 6 Maret 2022, terjadi aksi unjuk rasa warga Desa Sibanggor Julu akibat tuduhan yang salah tentang kebocoran gas H2S saat kegiatan uji sumur AAE-05 di Proyek Panasbumi Sorik Marapi,” ujar Head of Corporate Communications, Yani Siskartika, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Senin (7/3).

Yani menegaskan, pihaknya telah mengikuti prosedur standar operasional yang dirancang untuk memastikan kesehatan dan keselamatan masyarakat dan pekerja di lokasi kerja. Malahan, sebelum memulai pengujian sumur, perusahaan telah melakukan sosialisasi dengan masyarakat setempat pada 5 Maret 2022.

“Sosialisasi mencakup diskusi lisan dengan masyarakat sekitar dan distribusi pamflet dengan menggunakan pengeras suara untuk mengumumkan rencana pengujian sumur. Ini dilakukan untuk menciptakan kesadaran dan memastikan semua orang di area tersebut mengetahui akan diadakan kegiatan uji sumur yang sudah dijadwal,” paparnya.

Usai sosialisasi, SMGP segera mengevakuasi seluruh personel dan patroli dengan radius 300 meter. Bersamaan dengan itu, perusahaan juga memantau perimeter dengan drone untuk memastikan kesehatan dan keselamatan semua orang.

Selama kegiatan uji sumur, SMGP memantau kemana arah angin dan tingkat gas yang berasal dari sumur melalui gas detektor multi-gas. Gas yang mengalir dari sumur tidak terdeteksi dengan 0 ppm dan selalu dalam batas paparan yang diizinkan. Ini sesuai standar international saat melalui sistem abatement. Pada sistem ini terdapat 100 liter NaOH yang merupakan teknologi pelarutan H2S untuk mengurangi paparan gas H2S.

“Hasil dari detektor gas konsisten dengan uji sumur AAE-02 dan AAE-03 yang sebelumnya berhasil diuji oleh SMGP di wellpad yang sama,” ujar Yani.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa berdasarkan wind sock di Pad AAE, saat pengujian diakukan, angin bertiup ke arah timur dan timur laut. Sedangkan Desa Sibanggor Julu berada pada elevasi 26 meter dan jarak 397 meter arah selatan dari kegiatan pengujian sumur. Selama kegiatan uji sumur, tidak ada alarm gas yang berbunyi.

“Berdasarkan langkah-langkah keamanan dan pemantauan yang diambil, lokasi geografis Desa Sibanggor Julu dan fakta bahwa gas H2S lebih berat ketimbang udara, tidak ada indikasi atau bukti yang mendukung klaim paparan gas H2S dari sumur AAE-05 seperti yang telah dilaporkan,” ungkap Yani.

Menurutnya, SMGP berkomitmen untuk selalu memberikan dukungan kepada masyarakat termasuk memberikan bantuan kesehatan bagi masyarakat setempat, serta berpartisipasi dalam penyelidikan dengan pihak berwenang tentang penyebab sebenarnya dari insiden tersebut.

SMGP telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan pekerja, serta mengamankan operasi dan asetnya. Saat ini, operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sorik Marapi berjalan normal seperti yang telah disarankan oleh Direktorat Jenderal EBTKE.

“SMGP menyesalkan insiden yang terjadi di lokasi proyek kami yang membahayakan staf kami dan mengecam segala tindakan kekerasan terhadap staf kami dan orang lain,” ujar Yani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *