Denpasar, Petrominer – Pertamina Rosneft mempercayakan PT PLN (Persero) untuk menyediakan kebutuhan listrik bagi proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mempercepat progress pembangunan kilang di Jawa Timur tersebut yang direncanakan mulai beroperasi tahun 2027.
Sinergi BUMN ini dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina Rosneft dengan PLN terkait rencana kajian bersama dalam penyediaan listrik untuk kebutuhan proyek GRR Tuban. Kesepakatan itu ditandatangani oleh Presiden Direktur Pertamina Rosneft, Kadek Ambara Jaya, dan Direktur Keuangan dan Umum Pertamina Rosneft, Pavel Vagero, serta General Manager PLN Unit Distribusi Jawa Timur, Adi Priyanto, Kamis (23/9).
Usai menyaksikan penandatangan nota kesepahaman tersebut, Wakil Menteri I BUMN, Pahala Mansury, menyampaikan bahwa penyediaan listrik untuk GRR Tuban akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Tidak hanya itu, sebagai sinergi BUMN, kerjasama ini akan memberikan manfaat terkait efisiensi nasional.
“Bagi PLN, kerjasama ini akan meningkatkan serapan tenaga listrik sehingga akan meningkatkan pendapatan. Sementara bagi Pertamina Rosneft, kerjasama ini akan membuat lebih fokus untuk meningkatkan kompetitifnya,” ujar Pahala.
Melalui nota kesepahaman ini, Pertamina Rosneft dan PLN akan membuka peluang dalam melaksanakan kajian bersama untuk memastikan penyediaan suplai listrik hingga 20 Megawatt (MW) selama fase konstruksi dan commissioning. Selain itu, dari hasil kajian tersebut, nantinya akan ditentukan skema kerjasama yang paling optimal dan menguntungkan dari aspek bisnis serta akan mencakup pada penentuan penyediaan infrastruktur penunjang dan skenario konfigurasi sistem dan peralatan.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Djoko Priyono, menyampaikan bahwa fase konstruksi ditargetkan akan dimulai pada triwulan ketiga tahun 2023 dan perkiraan kebutuhan listrik GRR Tuban pada fase ini sebesar 20 MW. Sedangkan untuk tahapan commissioning start-up utility yang akan dimulai pada triwulan kedua tahun 2026 kebutuhan listrik dapat mencapai 50 MW.
Menurut Djoko, konfigurasi Kilang Pertamina Rosneft saat ini memerlukan kepastian jaminan operasional kilang tanpa terputusnya aliran listrik sehingga diperlukan pasokan listrik yang handal. Pasalnya, berhentinya operasi kilang dalam 1 hari sama dengan hilangnya potensi revenue sebesar US$ 34 juta (setara Rp 480 miliar).
“Karena itulah, dibutuhkan jaminan suplai energi listrik terus menerus yang handal dengan zero total failure,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada PLN yang akan menjaga komitmen untuk penyediaan kebutuhan listrik secara andal dengan harga yang kompetitif.
Nota kesepahaman ini akan berlaku selama satu tahun dan hasil kajian bersama ini akan dituangkan dalam kerjasama penyediaan listrik GRR Tuban dalam format Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik. Pada tahap operasi kebutuhan listrik secara total untuk kondisi normal operasi mencapai 678 MW melalui konfigurasi kombinasi suplai self-power generation dari kilang GRR Tuban serta electrical power grid dari PLN dan direncanakan PLN akan mensuplai hingga 500 MW.
Kerjasama antara Pertamina Group dan PLN untuk operasional kilang BBM bukan yang pertama. Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) meneken perjanjian kerjasama dengan PLN untuk penyediaan layanan kelistrikan untuk lima kilang Pertamina di Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju- Sungai Gerong, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, dan RU VI Balongan dengan kebutuhan total daya listrik yang disuplai mencapai 217 MVA, yang selanjutnya dapat bertambah 104 MVA.








Tinggalkan Balasan