Jakarta, Petrominer – Anggota Komisi VII DPR RI, Saadiah Uluputty, minta Pemerintah merevisi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) untuk Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021. Alasannya, perekonomian dunia mulai bergerak dan membutuhkan energi lebih besar lagi untuk mendorong pergerakan ekonomi tersebut
Rapat Kerja antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Komisi VII DPR RI, yang digelar Rabu (2/9), telah disepakati ICP tahun 2021 pada kisaran US$ 42-45 barel. Pertimbangannya antara lain realisasi ICP dari bulan Januari hingga 28 Agustus 2020 mencapai US$ 40,10 per barel, dengan outlook rata-rata tahun 2020 sebesar US$ 35 – 40 per barel. Sementara ICP rata-rata tanggal 1-28 Agustus 2020 sebesar US$ 41,66 per barel.
Namun, Saadiah memandang jika proyeksi ICP tersebut perlu direvisi. Alasannya, dari Energi Information Administration (IEA) AS memprediksi harga Crude Oil dunia sekitar US$ 50 per barel.
“Dengan menimbang Covid-19 di tahun 2021 mulai mereda bersamaan dengan ditemukannya vaksin dan obat Covid-19,” ungkapnya.
Dampak derivatifnya, menurut Saadiah, perekonomian dunia mulai bergerak dan membutuhkan energi lebih besar lagi untuk mendorong pergerakan ekonomi tersebut. Bahkan Goldman memperkirakan harga Brent akan naik ke US $ 65 per barel pada kuartal III-2021 dan rata-rata US$ 59,40 per barel untuk tahun ini
“Dengan melihat harga minyak dunia per hari ini yang sudah menyentuh antara US$ 42,94 – 45,68 per barel, idealnya proyeksi harga CPI untuk tahun 2021 di kisaran antara US$ 45 – 55 per barel. Dengan kurs rupiah terhadap US$ 1 adalah Rp 15.000,” tegasnya.
Selain itu, anggota Komisi VII asal Fraksi PKS ini juga mendesak Pemerintah agar meng-upgrade capaian lifting minyak nasional.
“Lifting minyak minimal harus 705 ribu barel per hari. Produksi di Blok Cepu sendiri dapat mencapai 235 ribu barel. Pemerintah tinggal memastikan blok-blok yang lain dapat memberikan kontribusi yang signifikan sehingga target lifting tersebut dapat tercapai,” paparnya.
Secara khusus, Saadiah berharap Pemerintah serius menaikkan produksi minyak dalam negeri mulai dari sekarang agar visi lifting minyak 1 juta barel pada tahun 2030 bisa dicapai. Tidak hanya itu, iklim investasi bidang energi juga mesti digairahkan oleh Pemerintah, dengan kebijakan insentif berupa kemudahan-kemudahan serta stimulus lainnya.
“Langkah-langkah konkrit perlu dijalankan. Realitas rendahnya pencapaian target lifting tahun sebelumnya tidak dapat dijadikan pembenaran. Aktivitas eksplorasi harus gencar dilakukan untuk penemuan ladang baru. Jangan sampai visi 1 juta barel di tahun 2030 ini hanya menjadi mimpi hampa,” tegasnya mengingatkan.








Tinggalkan Balasan